Cari Disini

Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Desember 2018

RESENSI BUKU API SEJARAH 1

API SEJARAH 1
Judul buku : Api Sejarah 1
Penulis : Ahmad Mansur Suryanegara
Penerbit : Salamadani (Suryadinasti)
Cetakan : 2009
Tebal buku : 584 halaman

RESENSI BUKU API SEJARAH 1Ahmad Mansur Suryanegara menceritakan bahwa Islam punya peran yang penting bahkan sangat penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Buku ini berusaha menjelaskan bahwa islam itu
mempunyai peran utama atau peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Dari buku Api Sejarah 1 ini saya menyimpulkan banyaknya fakta yang diungkapkan oleh Ahmad
Mansyur yang tidak saya dapatkan selama Pelajaran Sejarah SMP dan SMA. Perbedaannya
terdapat pada Islamisasi yang sengaja dilakukan oleh beberapa orang Belanda. Yang dimana tujuannya agar kita dibutakan oleh sejarah kita sendiri, sejarah yang tidak seharusnya sampai pada telinga kita. Pada buku Api Sejarah 1 ini banyak diangkat cerita perjuangan umat islam dan perannya yang besar dalam usaha meraih kemerdekaan Indonesia. Peran para ulama, juga pesantren dan santrinya. Peran dari banyak beberapa pergerakan islam di Indonesia yang masih terdengar asing dalam pengetahuan sejarah masyarakat Indonesia. Sejarah memang tidak dapat kita ketahui dengan pasti dan runtut, beberapa ahli sejarawan menuliskan sejarah yang mereka ketahui dengan versi berbeda-beda namun intinya sama, atau menggunakan sudut pandang yang berbeda dengan maksud yang sama. Kita boleh tidak percaya pada sejarah bilamana tidak terdapat bukti yang nyata atau real. Saya menganalisis dalam Buku Api Sejarah 1 bahwa sejarah muslim di indonesia yang mana sudah dibela dan diperjuangkan oleh para ulama-ulama beserta santrinya dalam memerdekakan nusantara indonesia yang besar pengorbanannya akan tetapi kurang nya postingan dan penyebaran pengetahuan tentang peranan ulama dan santri dalam sejarah dari generasi kegenerasi
yang yang tidak diketahui karnanya kurangnya peranan terknologi dalam penyebarannya yang mana penghapusan sejarah dengan tujuan untuk menghilangkan jati diri seorang bangsa yang berakibat pada generasi selanjutnya yang tidak tahu jati dirinya dan membela kaum orang-orang penjajah, itulah salah satu tujuan sang pengarang Ahmad Mansur.

Kelebihan buku Api Sejarah 1 dengan tebal 584 halaman ini sangat antusias dalam menceritakan kisah peristiwa sejarah indonesia. Apa yang diceritakan dalam buku Api Sejarah 1 ini punya keistimewaan tersendiri dibanding buku-buku sejarah indonesia lainnya, yang mampu membuat pembacanya ingin mengetahui atau menelaah lebih jauh. Pembabakan waktunya juga ditulis secara urut sehingga lebih mudah dipahami. Disamping kelebihan pastinya ada kekurangan. 

Kekurangan pada buku Api Sejarah 1 ini referensi yang digunakan dalam argumentasinya memaksa kita untuk berpikir dua kali untuk membantahnya. Dalam hal penulisan juga beberapa ditemukan kesalahan per kata.

RESENSI BUKU Dewi Sartika

Judul Buku: Dewi Sartika
Penulis: Rochiati Wiriaatmadja
Penerbit:  Depdikbud Proyek Pembinaan Sekolah Dasar
Cetakan: 1985
Jumlah hal.:  vi + 128 halaman

RESENSI BUKU Dewi Sartika
Diceritakan mengenai skandal politik keluarga Dewi Sartika. Dewi Sartika merupakan keturunan menak atau priyayi. Dari garis keturunan ibunya, ia adalah cucu dari Dalem Bintang, yakni Bupati Bandung pada tahun 1846-1874. Namun ayahnya, Raden Somaganara, yang sempat menjabat menjadi Patih Bandung bersama dengan kakek Dewi Sartika, R.Demang Soeriadiprdja menyusun sebuah penentangan terhadap terpilihnya RA Martanegara sebagai Bupati Bandung menggantikan Raden Adipati Kusumadilaga. Kejadian ini dikenal dengan Peristiwa Dinamit Bandung. Peristiwa ini terjadi pada 17 dan 20 Juli 1893. Akhirnya karena hal ini, Somanagara diasingkan ke Ternate dan kakek Dewi Sartika diasingkan ke Pontianak.

Saat ayahnya diasingkan, ibu Dewi Sartika turut serta ke Ternate. Dewi Sartika dan saudara-saudaranya dititipkan terpisah-pisah ke kerabat mereka. Dewi Sartika dititipkan pada pamannya, Raden Demang Suriakarta Adiningrat, kakak dari ibu Dewi Sartika. Pamannya adalah Patih Afdeling Cicalengka. Dewi Sartika tnggal disana sampai ia berusia 18 tahun. Kehidupannya di Cicalengka cukup berat. Ia adalah anak seorang buangan politik. Keluarganya sangat berhati-hati saat berinteraksi dengannya karena takut dicap sebagai pemberontak. Ia juga tidak bisa diperlakukan dengan seenaknya seperti rakyat biasa karena Dewi Sartika dari garis keturanannya adalah seorang menak. Ini menjadi dilema tersendiri. Kondisi ini yang kemudian menempa karakter Dewi Sartika. Bahkan diceritakan bahwa ia dengan kepandaiannya karena sempat bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) meski hanya sampai kelas 2, mengajarkan baca-tulis dan sedikit bahasa Belanda kepada anak-anak abdi dalam yang ada di lingkungan keluarga pamannya. Dan akhirnya setelah ibunya kembali dari Ternate ke Bandung karena kematian ayahnya di pengasingan, Dewi Sartika pun membuka sebuah sekolah di halaman belakang rumah ibunya.

Di Bab III buku ini sempat disinggung kondisi pendidikan anak perempuan di Indonesia yakni dimana pelajaran baca-tulis tidak dianggap cuku penting. Perempuan Indonesia diajar dan diharapkan untuk tahu tugas-tugasnya dalam mengelola rumah tangga, menerapkan tata krama, dan cara melakukan perjamuan. Akhirnya Dewi Sartika berinisiatif membuat sekolah yang mengajarkan baca-tulis dan keterampilan agar perempuan pribumi bisa lebih mandiri dan tidak benar-benar tergantung pada kaum laki-laki seperti ayah, suami atau kakak laki-lakinya.

Dalam bab IV diceritakan tentang perjuangan Dewi Sartika merintis Sakola Istri yang kemudian berubah nama menjadi Sakola Keutamaan Istri  dan kemudian menjadi Sekolah Raden Dewi. Banyak tantangan yang dihadapi Dewi Sartika. Mulai dari kecurigaan orang atas apa yang sedang ia lakukan, mengingat latar belakang keluarganya yang memiliki skandal sebagai orang-orang yang menentang kepemimpinan Martanegara yang saat itu masih menjabat sebagai Bupati; ada pula sikap antipati yang diterimanya dari kaum Menak yang menganggap Dewi Sartika tidak menghormati adat karena bersedia mengajari anak-anak perempuan dari berbagai kalangan, tidak dari kaum menak saja; hingga dia harus menelan harga diri dan menemui RA Martanegara untuk memperoleh dukungan agar sekolahnya bisa tetap berdiri. Perjuangan ini juga menunjukkan keteguhan hati seorang Dewi Sartika. Ia tidak hanya berbicara tentang pendidikan kaum perempuan, tapi melakukan perlawanan atas keberadaan kasta-kasta dalam masyarakat tempatnya hidup. Ia menentang feodalisme tidak hanya oleh penjajah mereka yang berbeda bangsa namun jaga kolonialisme yang dilakukan olah orang-orang sebangsanya sendiri terhadap yang lain.

Selain itu diceritakan tentang pilihan Dewi Sartika untuk menikah dengan R Agah Soeriawinata yang kerap disapa Raden Agah. Raden Agah adalah seorang duda. Dan tidak lazim saat itu perempuan menikah yang masih gadis menikah dengan lelaki seorang duda. Selain itu, Dewi Sartika juga sangat prihatin dengan masalah pelacuran, dan baginya untuk menghentikan pelacuran maka ia harus mendidik perempuan pribum untuk bisa mandiri. Caranya? Dengan mengajarkan mereka keterampilan yang bisa menghasilkan produk sehingga bisa menjadi sarana untuk memperoleh penghidupan. Inilah yang membuat ia semakin yakin untuk melanjutkan perjuangannya.

Dalam bab VI kita akan menemukan bahwa banyak juga cerita sedih yang mewarnai kehidupan Dewi Sartika. Saat 25 Juli 1939, Raden Agah meninggal secara mendadak. Kemudian pada saat kedatangan Jepang yang menggantikan Belanda menjajah Indonesia, Sekolah Raden Dewi diubah menjadi Sekolah Gadis No.29. Dewi Sartika menolak mengajar di sekolah itu. Setelah itu pada tahun 1946, Dewi Sartika mengungsi ke Garut saat terjadinya Bandung Lautan Api. Dan sejak saat itu ia tidak lagi kembali ke Bandung. Dewi Sartika menghembuskan nafas terakhir di kota Cineam pada 11 September 1947 karena sakit yang dideritanya.

RESENSI NOVEL "DAN PERANG PUN USAI"

RESENSI NOVEL "DAN PERANG PUN USAI"Resensi Novel Sejarah:

Judul : DAN PERANG PUN USAI
Karya : Ismail Marahimin
Tahun : Cetakan Keenam, 2005
Penerbit : Pustaka Jaya
Tebal : 244 Halaman
Bahasa : Indonesia
Kulit Muka : Soft Cover
Dimensi : 14,5 x 21cm

Sinopsis Novel :

Dan Perang pun Usai adalah roman mutakhir Indonesia yang bernilai sastra tinggi. Roman ini adalah salah satu karya dari Ismail Marahimin. Roman ini mendapat hadiah kedua dalam sayembara mengarang roman oleh Dewan Kesenian di Jakarta pada tahun 1977. Dan tahun 1984 mendapat hadiah sastra The Pegasus Prize for Literature yang disponsori pihak perusahaan mobil Amerika. Yakni, mobil Oil Corporation bagi suatu karya sastra bangsa yang bernilai tinggi untuk diperkenalkan ke seluruh dunia.

Roman ini diterbitkan pertama kalinya pada tahun 1982 oleh Penerbit Sinar Harapan.
Tema cerita: Perjuangan dan Revolusi.
Setting Cerita: Teratak Buluh, di daerah Sumatera.

Tokoh-tokoh dan watak:
Gentaro Ose: seorang Kepala Kamp tawanan milik Jepang yang memiliki sifat cukup baik.
Sersan Kiguchi: Dia ialah Wakil Kepala Kamp Tawanan yang memiliki sikap yang bengis kepada para tawanan.
Kliwon: pemuda bangsa Indonesia, bekas Romusha. Dia memiliki sikap rela berkorban dan pantang menyerah.
Wimpie: seorang tawanan bangsa Belanda yang selalu ingin melarikan diri dari kamp tawanan Jepang.
Lena: Anak haji Zen. Dia adalah kekasih Kliwon yang punya misi sama dengan Kliwon.
Van Roscott: seorang tawanan bangsa Belanda. Dia juga seorang pastor.
Haji Zen: tokoh masyarakat Teratak Buluh. Beliau memiliki semangat juang yang tinggi dan rela berkorban.
Pak Tua Hasan: orang pribumi yang ikut membantu pelarian para tawanan.

Ringkasan Cerita:
Dengan hati-hati beberapa tawanan yang berada di Kamp Tawanan, Teratak Buluh milik Jepang merencanakan akan melarikan diri. Namun, rencana pelarian tersebut pertama kali diajukan oleh Wimpie, seorang tawanan dari bangsa Belanda. Hal itu belum mendapat kesepakatan oleh semua tawanan yang berada dalam kamp.

Di antara para tawanan, waktu itu terjadi beda pendapat antara yang pro Wimpie atau setuju hendak kabur dengan kontra pimpinan pastor Van Roscott yang punya firasat bahwa perang segera berakhir. Akibatnya, dalam kamp tersebut di antara para tawanan yang terdiri dari 31 orang Belanda dan 1 orang pribumi bekas romusha yang bernama Kliwon sering terjadi ketegangan-ketegangan.

Letnan Gentaro Ose sebagai pimpinan kamp yang mengepalai sepuluh orang prajurit Jepangnya itu, tidak tahu menahuakan rencana para tawanan Belanda itu.Dari wakilnya, Sersan Kiguchi, dia hanya mendapat laporan-laporan bahwa diantara para tawanan terjadi ketegangan-ketegangan. Namun, penyebab-penyebab ketegangan-ketegangan itu adalah ia sendiri. Dia hanya menduga-duga bahwa pasti akan terjadi dalam Kamp Tawanan, nantinya.

Pihak-pihak yang pro atau kabur itu, kemudian menyusun rencana pelarian itu dengan penuh rinci. Jalan-jalan yang akan dilewati nantinya ditentukan oleh Kliwon. Kliwon sendiri tidak mempunyai hasrat untuk melarikan diri, namun karena aibnya banyak diketahui oleh Wimpie seperti perbuatan maksiatnya dengan anak Haji Zen, yaitu Lena serta perbuatan aib lainnya maka terpaksa dia harus menyetujui rencana Wimpie. Dia takut Wimpie akan menyebarluaskan semuanya itu ke semua orang. Dan kalau itu dilakukan oleh Wimpie, pasti Haji Zen akan marah padanya dan pasti akan malu besar dia terhadap Haji Zen.

Dalam rencana itu, haji Zen bertindak sebagai pembantu menyiapkan persediaan makanan dan segala kebutuhan pelarian yang dibutuhkan. Sedangkan Pak Tua Hasan akan dijadikan sebagai penunjuk jalan untuk menuju sebuah desa terasing, tempat nantinya mereka sembunyi. Akibat kekalahan Jepang di daerah Asia-Pasifik, para komandan Jepang yang berada di Sumatera dipanggil ke Kota Pekanbaru guna mendapat pengarahan dari pusat perhubungan dengan Gentaro Ose, maka pimpinan sementara Kamp Tawanan Teratak diserahkan kepada wakilnya, yakni Sersan Kiguchi.

Di bawah kepemimpinannya, para tawanan dalam kamp tersebut mendapat siksaan yang cukup berat. Mereka diharuskan kerja siang malam. Bagi siapa saja yang melanggar perintahnya, tidak saja dihukum bekerja berat tapi juga disiksa secara fisik dengan pukulan dan tendangan dari prajurit-prajurit Jepang atas perintah Sersan Kiguchi. Kliwon menyaksikan semuanya. Malah ketika dia hendak memasuki kamp sewaktu akan pulang dan kencannya dengan Lena, Kliwon tidak jadi pulang dari kamp. Dia tidur di atas rel kereta api. Hampir saja, Kliwon mati dilindas kereta api paginya, untung saja itu tidak terjadi.

Sementara itu, Letnan Ose menerima pengarahan dari pusat yakni dari Kaisar Jepang bahwa Jepang telah kalah dan menyerah terhadap Sekutu maka seluruh komando diperingatkan agar menjaga tawanan dengan baik sambil menunggu kedatangan tentara Sekutu yang akan menyelesaikan semuanya di Indonesia.

Tiba di Kamp Tawanan Teratak Buluh, Letnan Ose langsung mengumpulkan para prajurit Jepang di halaman Kamp guna menyampaikan pesan dari Kaisar. Rupanya, para tawanan menerjemahkan dengan versi lain. Mereka menganggap bahwa kedatangan prajurit Jepang yang dipimpin langsung oleh Letnan Gentaro Ose tersebut adalah suatu pengarahan pembantaian terhadap para tawanan.

Karena berpikiran begitu, ketika para prajurit Jepang datang, para tawanan itupun melakukan rencana pelarian mereka. Rombongan pelarian itu bertambah satu orang lagi, yakni Lena yang memaksa ikut bersama Kliwon kekasihnya itu. Walaupun sudah diberi nasihat oleh Pak Tua Hasan, namun Lena tetap bertekad ikut. Hal ini dia lakukan, sebab dia tidak rela Kliwon meninggalkannya, padahal Kliwon sudah sering menidurinya. Dia pun tidak mau menikah dengan pemuda lain yang belum dikenalnya dan tidak dicintainya.

Sebelum rombongan ini tiba di tempat tujuan yaitu desa terasing yang telah dijanjikan oleh Kliwon. Namun, rombongan itu berhasil ditemukan oleh prajurit-prajurit Jepang. Dengan segala upaya, para tawanan itu berusaha meloloskan diri dari kepungan prajurit-prajurit Jepang yang dipimpin oleh Letnan Ose dan Sersan Kiguchi. Sayang, nasib sial menimpa Pastor Van Schott, Kliwon dan Lena. Ketiganya tak berhasil meloloskan diri dari kepungan sedangkan tawanan lainnya berhasil meloloskan diri. Ketiga orang ini mati ditembak oleh terpaan peluru-peluru senapan yang dimuntahkan dari sepuluh senapan prajurit Jepang atas komando Letnan Gentaro Ose.

Para tawanan yang telah bebas, kini bisa berbahagia dan bersyukur. Mereka tidak lagi disiksa dan ditindas oleh penjajah. Karena, Indonesia telah menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat tak lama setelah Jepang menyerah kepada Sekutu. 


Kelebihan : Ceritanya menarik, mudah dipahami oleh pembaca dan mengandung pelajaran yang disampaikan oleh si penulis untuk si pembaca

Kekurangan : Novel sudah mulai jarang ditemui.

Jumat, 21 Desember 2018

RESENSI novel Pulang karya Leila S.chudori

RESENSI novel Pulang karya Leila S.chudoriJudul                   : Pulang

Penulis                : Leila S.chudori

Penerbit              : Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal buku          : 552 halaman

Tahun penerbit    : 2013



Sinopsis

Paris, Mei 1968: Ketika revolusi mahasiswa berkecamuk di Paris, Dimas Suryo seorang eksil politik Indonesia bertemu Vivienne Deveraux, seorang mahasiswa Prancis yang ikut demonstrasi melawan pemerintah Prancis. Pada saat yang sama, Dimas menerima kabar dari Jakarta: Hananto Prawiro, sahabatnya, ditangkap tentara dan dinyatakan tewas. Dimas merasa cemas dan gamang. Bersama puluhan wartawan dan seniman lain, dia tak bisa kembali ke Jakarta karena paspornya dicabut oleh pemerintah Indonesia. Sejak itu mereka mengelana tanpa status yang jelas dari Santiago ke Havana, ke Peking dan akhirnya mendarat di tanah Eropa untuk mendapatkan suaka dan menetap di sana.

Di tengah kesibukan mengelola Restoran Tanah Air di Paris bersama tiga kawannya: Nug, Tjai, dan Risjaf—mereka berempat disebut Empat Pilar Tanah Air—Dimas, terus-menerus dikejar rasa bersalah karena kawan-kawannya di Indonesia satu persatu tumbang, dikejar, ditembak, atau menghilang begitu saja dalam perburuan Peristiwa 30 September. Apalagi dia tak bisa melupakan Surti Anandari—isteri Hananto—yang bersama ketiga anaknya berbulan-bulan diinterogasi tentara.

Mei 1998: Lintang Utara, puteri Dimas dari perkawinan dengan Vivienne Deveraux, menyatakan keinginannya untuk ke Indonesia dan merekam pengalaman keluarga korban tragedi September 30 sebagai tugas akhir kuliah. Apa yang terkuak oleh Lintang bukan sekadar masa lalu ayahnya dengan Surti Anandari, tetapi juga bagaimana sejarah paling berdarah di negerinya mempunyai kaitan dengan Ayah dan kawan-kawan ayahnya. Bersama Segara Alam, putera Hananto Prawiro, Lintang menjadi saksi mata apa yang kemudian menjadi kerusuhan terbesar dalam sejarah Indonesia: kerusuhan Mei 1998 dan jatuhnya Presiden Indonesia yang sudah berkuasa selama 32 tahun.

resensi buku Kupu Kupu Salju



Judul : Kupu Kupu Salju
Penulis : Felice cahyani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Desember 2010
Cetakan Kedua : April 2011
Tebal : 248 halaman

resensi buku Kupu Kupu Salju
Sembilan tahun yang lalu, Remy memberikan sebuah buku harian terkunci kepada Alice, berjanji akan memberikan kuncinya pada hari ulang tahun gadis itu. Namun Remy tak pernah muncul, hanya meninggalkan buku harian dan kenangan yang selalu menyala di hati Alice.

Kini Alice sudah SMA. Di sekolah barunya ia bertemu Juno Wirjadinata dan Mickey Chendra----dua "pangeran" di San Cristoforo School.


Pertemuan itu masing-masing berkembang menjadi hubungan yang unik. Juno lebih suka menghindari Alice, karena ada sesuatu pada diri gadis itu yang membuat hatinya resah, sedangkan Mickey jatuh cinta kepada Alice, dan memperlakukan gadis itu bak ksatria terhadap seorang putri.


Konflik datang bersama dengan kemunculan Kiev Wardjono. Kiev, berandalan licik yang menyimpan dendam, memanfaatkan Alice untuk merusak persahabatan Juno dan Mickey.


Sementara itu tanpa Alice sadari, sosok Remy sebenarnya ada di sekitarnya selama ini. Hanya saja kini ia bukan lagi seorang Remy. Keadaan telah mengubah identitasnya. Siapakah dia? Apakah Alice akan mendapatkan Remy-nya kembali?


Dalam buku ini, Felice Cahyani menceritakan tentang Alice dan cinta pertamanya. Novel ini juga menceritakan tentang persahabatan antara cowok itu tidak hanya di isi dengan kekompakan menghajar orang,  tetapi juga dengan kekuatan emosi dan dijunjung tingginya arti sebuah persahabatan.

Buku ini memiliki cover yang sangat menarik minat para pembaca. Bukan hanya covernya saja ceritanya pun juga sangat menarik, dengan pengulangan kalimat yang tidak membosankan untuk para pembacanya, dan di dalam novel ini karakter tokoh-tokohnya tergambar dengan jelas. Novel ini memiliki ending yang simple, dikemas dengan bagus, dan tak terduga sebelumnya. Tapi sangat disayangkan dalam novel ini si pengarang terlalu banyak menyebutkan merak-merek produk yang dipakai oleh para tokohnya.


Novel ini mengajarkaan bahwa, cinta pertama belum tentu cinta selamanya dan cinta terakhir  bagi kita. Karena tanpa kita sadari, kita bisa jatuh cinta lebih dalam kepda orang yang selalu berada di dekat kita.

Selasa, 20 Februari 2018

RESENSI BUKU JENDERAL ANUMERTA BASUKI RACHMAT

RESENSI BUKU JENDERAL  TNI ANUMERTA BASUKI RACHMATIdentitas Buku
Judul                   :Jenderal Anumerta Basuki Rachmat
Penulis                :RM.Soebantardjo
Diterbikan oleh    :Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional
Edisi                    :1996
Tebal                   :114 hlm
Harga                  :Rp.17.000,00

SINOPSIS 
MASA KECIL BASUKIRACHMAT:Pada tahun 1943, Selama pendudukan Jepang di Indonesia, Basuki bergabung dengan Pembela Tanah Angkatan Darat (PETA), sebuah kekuatan tambahan berlari oleh Jepang untuk melatih tentara tambahan dalam kasus invasi Amerika Serikat Jawa. Dalam MAP, Basuki, bangkit untuk menjadi Komandan Kompi.
Dengan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 oleh para pemimpin Nasionalis Soekarno dan Mohammad Hatta, Basuki, seperti banyak pemuda lain ke dalam milisi Mulai Band dalam persiapan untuk pembentukan dari Angkatan Darat Indonesia. Pada tanggal 5 Oktober 1945, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, dengan Basuki mendaftar dengan TKR pada bulan yang sama di kota Ngawi di provinsi asalnya Jawa Timur. Di sana ia ditempatkan dengan KODAM VII / Brawijaya (kemudian dikenal sebagai Wilayah Militer V / Brawijaya), komando militer dibebankan dengan keamanan Jawa Timur.
PEMBERONTAKAN PKI 1965:Pada tahun 1965, ada banyak ketegangan politik di Indonesia, khususnya antara Angkatan Darat dan Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI, yang perlahan tetapi pasti mendapatkan pijakan dalam politik Indonesia, sekarang sudah siap untuk menjadi partai politik yang paling kuat karena hubungan mereka dengan Presiden Soekarno. Pada bulan September tahun 1965, Basuki tumbuh waspada terhadap kegiatan komunis di Jawa Timur dan pergi ke Jakarta untuk melaporkan pengamatannya kepada Panglima Angkatan Darat, Ahmad Yani. Mereka bertemu pada malam 30 September ketika bertemu dengan Yani Basuki dan melaporkan kejadian di di provinsinya. Yani Basuki memuji tentang laporan tersebut dan ingin dia untuk menemaninya ke pertemuan dengan Presiden keesokan harinya untuk menyampaikan kisahnya kegiatan Komunis.
Keesokan paginya pada tanggal 1 Oktober, Basuki dihubungi oleh Markas Besar Angkatan Darat dan diberitahu tentang penculikan para jenderal, termasuk Yani. Mendengar hal ini, Basuki bersama dengan seorang pembantunya masuk mobil dan mengambil drive di sekitar kota untuk memeriksa apa yang sedang terjadi. Saat ia sedang mengemudi, Basuki melihat pasukannya dari Jawa Timur, Batalyon 530 menjaga Istana Kepresidenan dan bahkan lebih terkejut bahwa mereka tidak memakai identitas apapun. Setelah menyarankan agar mendekati mereka dengan ajudannya, Basuki melaju kembali ke akomodasi di mana ia diberitahu bahwa ia dibutuhkan di Kostrad markas.Basuki pergi ke markas Kostrad untuk menemukan bahwa Panglima Kostrad, Mayor Jenderal Soeharto telah memutuskan untuk menanggung kepemimpinan Angkatan Darat dan mengambil kendali situasi. Dari Soeharto, Basuki menemukan bahwa sebuah gerakan yang menyebut diri mereka Gerakan September 30 telah menggunakan pasukan untuk menempati titik-titik strategis di Jakarta.
 Soeharto kemudian mengatakan Basuki bahwa dia perlu dia untuk menegosiasikan pasukan ke menyerah sebelum 6 atau dia akan menggunakan kekuatan. Ini, Basuki disampaikan kepada Batalyon 530 yang memperlakukannya dengan sangat hormat. Basuki berhasil dan oleh 16:00,
Batalyon 530 menyerahkan diri ke Kostrad.Pada siang hari, Gerakan G30S membuat pengumuman Dewan Revolusi. Di antara nama-nama yang tercantum adalah bahwa Basuki. Ini bukan insiden terisolasi karena banyak jenderal anti-Komunis seperti Umar Wirahadikusumah dan Amirmachmud juga terdaftar di dewan ini. Basuki dengan cepat menyangkal janji.
Juga selama hari dan tanpa sepengetahuan Basuki adalah pertemuan yang diselenggarakan di Halim antara Soekarno, Panglima Angkatan Udara Omar Dhani, Panglima Angkatan Laut RE Martadinata, dan Kapolri Sucipto Judodiharjo untuk menunjuk baru Panglima Angkatan Darat. Meskipun itu Mayor Jenderal Pranoto Reksosamudra yang akan ditunjuk Panglima Angkatan Darat, nama Basuki sempat dipertimbangkan. Itu cepat diberhentikan oleh Sukarno, yang berkelakar bahwa Basuki akan selalu jatuh sakit saat kesempatan itu membutuhkannya.
SUPERSEMAR 1996:Pada 11 Maret 1966, Basuki menghadiri rapat kabinet di Istana Presiden, yang pertama sejak Sukarno reshuffle kabinet pada akhir Februari. Pertemuan belum berlangsung lama sebelum Sukarno, setelah menerima catatan dari komandan pengawalnya, tiba-tiba meninggalkan ruangan. Ketika pertemuan itu selesai, Basuki dan Menteri Perindustrian, Mohammad Jusuf, pergi ke luar Istana Presiden untuk bergabung Amir Machmud, Komandan KODAM V / Jaya. Basuki kemudian diberitahu apa yang telah terjadi dan diberitahu bahwa Soekarno telah pergi ke Bogor dengan helikopter karena tidak aman di Jakarta.Jusuf menyarankan agar mereka bertiga pergi ke Bogor untuk memberikan dukungan moral bagi Sukarno.
 Dua jenderal setuju dan bersama-sama ke Bogor setelah meminta izin Soeharto. Menurut Amir Machmud, Suharto meminta tiga Jenderal untuk memberitahu Sukarno kesiapan untuk memulihkan keamanan harus Presiden memesannya.Di Bogor, tiga bertemu dengan Soekarno yang tidak senang dengan keamanan dan dengan desakan Amir Machmud bahwa semuanya aman. Soekarno kemudian mulai mendiskusikan pilihan dengan tiga Jenderal sebelum akhirnya Sukarno kemudian mulai mendiskusikan pilihan dengan Basuki, Jusuf, dan Amirmachmud sebelum akhirnya meminta mereka bagaimana dia bisa mengurus situasi. Basuki dan Jusuf diam, tetapi Amir Machmud menyarankan bahwa Sukarno memberi Suharto beberapa kekuatan dan memerintah Indonesia dengan dia sehingga semuanya dapat diamankan. Pertemuan kemudian dibubarkan, Sukarno mulai mempersiapkan Keputusan Presiden.
Itu senja ketika Keputusan yang akan menjadi Supersemar akhirnya siap dan menunggu tanda tangan Sukarno. Sukarno memiliki beberapa keraguan menit terakhir tetapi Jusuf, bersama dengan dua jenderal dan lingkaran dalam Sukarno dalam Kabinet yang juga telah membuat perjalanan ke Bogor mendorongnya untuk menandatangani. Soekarno akhirnya menandatangani surat itu. Sebagai keluar paling senior dari tiga Jenderal, Basuki dipercayakan dengan huruf dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada Soeharto. Malam itu, tiga Jenderal segera pergi ke Markas Kostrad dan Basuki menyerahkan surat kepada Soeharto.

KELEBIHAN:
1).Kertas yang digunakan bagus
2).Bahasa yang digunakan baik
3).Penukisan kalimat yang jelas
4).Didukung dengan ilustrasi gambar

KEKURANGAN:
1).sampul buku kurang menarik
2).kurangnya warna pendukung pda tiap gambar.

Lihat dan baca juga Resensi bertemakan Sejarah disini

Senin, 19 Februari 2018

RESENSI BUKU Timor Timur Bersatu Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia

Judul buku   : Timor Timur Bersatu Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
Penulis         : DRS. SUTRISNO
Tebal buku   : 68 halaman
Penerbit        : PT Media Wiyata 
Tahun terbit  : 1992

Sinopsis : 
Timor Timur letaknya antara Propinsi Nusa Tenggara Timur dan Benua Australia. Luasnya 14.989 km2. Tanahnya bergunung – gunung. Terdiri atas lapisan kapur, karang, dan tanah liat. Iklim Timor Timur dipengaruhi oleh iklim Benua Australia. Tanaman ekspor yang utama adalah kopi. Jenis hewan yang terdapat di Timor timur adalah rusa, kakak tua, lorico, dara liar, monyet liar, dan segala jenis ular. 
Pendududk Timor Timur terdiri atas beberapa suku di antaranya ialah: suku Attoni, Helo, Roti, Kemanto, Kupang. Jumlah penduduk Timor Timur kira – kira 650.000 orang. Sebagian terbesar terdiri atas penduduk asli ( pribumi ). Sedangkan orang-orang cina kira-kira berjumlah 100.000 orang. Pada masa penjajahan Portugis bahasa resmi yang digunakan ialah bahasa Portugis. Setelah bergabung degan Indonesia , bahasa nasional yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Agama yang berkembang di Timor Timur adalah Agama Roma Katolik, Islam, dan Kristen. Disamping itu, ada juga rakyat yang menganut kepercayaan asli, yaitu percaya adanya dewa – dewa dan roh nenek moyang. 
Beberapa abad lamanya bangsa Protugis dan Spanyol pernah dijajah oleh bangsa Arab yang beragama Islam. Penjajahan ini baru berakhir menjelang penghabisan abad ke 15.  Bangsa Portugis yang pertaa – tama datang di Timor adalah pastor Anthonio Taveira. Portugis menggunakan siasat menyiarkan agama, kemudian melakukan perdagangan. Tetapi, akhirnya menguasai dan memperluas kekuasaannya. Kedatangan bangsa Portugis ke Indonesia dan pulau Timor mula – mulanya untuk kepentingan agama, kemudian beralih kegiatan perdagangan dan mencari kekayaan. 
Kemudian pada tanggal 16 Agustus 1976, Presiden Suharto mengumumkan kepada seluruh rakyat Indonesia, rakyat Timor Timur, dan dunia bahwa Timor Timur telah bersatu dengan NKRI.

Kelebihan: Menambah ilmu pengetahuan tentang Timor Timur yang dahulunya bergabung dengan Indonesia.
Kekurangan: Tidak di ceritakan lagi bagaimana Timor Timur keluar dari NKRI

Lihat dan baca juga Resensi bertemakan Sejarah disini

Minggu, 18 Februari 2018

RESENSI BUKU : Candi Prambanan

IDENTITAS BUKU
a.)     Judul                            : Candi Prambanan
b)      Nama Pengarang         : Daniel Agus Maryanto
c)      Penerbit                       : PT Citra Aji Parama
d)      Tahun terbit                 : 2007
e)       Cetakan                      : Pertama
f)       Halaman                      : iii + 45

SINOPSISI
CANDI PRAMBANAN
            Resensi buku Candi Prambanan karya Daniel Agus Maryanto ini menceritakan tentang legenda Candi Prambanan. Tidak hanya tentang legenda Candi Prambanan, lokasi Candi Prambanan, tetapi juga bagian-bagian Candi Prambanan dan arca dewa.
            Buku ini menceritakan tentang legenda Candi Prambanan, yang mana Bandung Bondowoso telah membunuh Prabu Baka. Bandung Bondowoso berniat mengambil Rara Jonggrang putri Prabu Baka sebagai istrinya. Karena Rara Jonggrang sakit hati karena terbunuhnya ayahnya. Rara Jonggrang mengajukan syarat untuk membuat seribu candi dalam satu malam.
            Namun, Bandung Bondowoso mendatangkan ribuan jin untuk membangun Candi Prambanan. Rara Jonggrang tak kehabisan akal, Rara Jonggrang dan semua gadis yang berada di Prambanan menyalakan obor, menumbuk padi, dan ayam jago yang berkokok. Raden Bondowoso pun marah melihat usaha Rara Jonggrang dan mengutuk Rara Jonggrang sebagai penggenap patung keseribu dan gadis-gadis prambanan dikutuk menjadi perawan tua.
             Lokasi Candi Prambanan di Desa Karangasem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan dikelola oleh PT. Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan.
            Candi Prambanan dibagi 3 bagian yaitu Halaman III (jaba), Halaman II (tengahan), dan Halaman I (pusat/jeroan). Candi halaman pusat adalah Candi Siwa, Candi Wisnu, Candi Brahma, Candi Wahana, Candi Nandi, Candi Angsa, Candi Garuda, Candi Apit, Candi Kelir, dan Candi Patok.
            Arca dewa utama antara lain Dewa Siwa, Dewa Brahma, dan Dewa Wisnu.  Arca dewa pengiring antara lain Agastya, Ganesha, Mahakala, dan Nandiswara. Arca dewa lokapala dipahat di dinding sejumlah 24 buah.
            Buku ini juga menjelaskan dalam bentuk kalimat yang tidak terlalu rumit sehingga mudah dipahami oleh pembacanya. Walaupun disajikan dalam kalimat simpel dan sederhana, buku ini menyajikan gambar-gambar yang berwarna sehingga tidak membosankan. Namun, sampul buku ini kurang menarik pembacanya karena gambar Candi Prambanan terlihat kusam dan kurang megah.

Kelebihan
Ceritanya bagus
Kekurangan
Bahasanya masih susah dipahami karena masih pakai bahasa tempo dulu
Amanat
Kita tidak boleh ingkar janji

Lihat dan baca juga Resensi bertemakan Sejarah disini

Resensi Buku : Kupilih Jalan Gerilya

Identitas Buku
Judul                 : Kupilih Jalan Gerilya
Penulis           : E. Rokajat Asura
Penerbit            : Imania
Tempat Terbit   : Depok
Tebal                 : 270 halaman
Tahun Terbit     : 2015
Sinopsis
Didalam buku ini menceritakan tentang perjalanan Jenderal Soedirman yang pada saat itu mengalami sakit TBC saat akan bergerilya, namun sebelum Soedirman akan bergerilya  bung karno tidak mengizinkan Soedirman bergerilya. Namun dengan semangat juang yang tinggi Soedirman tetap melanjutkan tekad nya itu. Ketika Soedirman bergegas untuk bergerilya , Alfiah istri Soedirman sedang mengandung 5 bulan, berat rasanya meninggalkan, namun demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 
Soedirman melangkah keluar menuju hutan yang gelap dan dinginnya gunung pada malam hari. Kesehatan yang tidak memungkinkan untuk soedirman berjalan kaki. Penghianat diduga berada didekat mereka ,namun dengan strategi soedirman dan berkat tuhan pengejaran belanda selalu gagal. Soedirman juga pernah dikepung belanda, namun dengan akal cerdiknya soedirman dan anak buahnya menyamar menjadi orang yang sedang diadakan sebuah pengajian.
Dengan liku liku perjalanan yang tidak mudah, soedirman harus ditandu. soedirman dan anak buahnya terus melanjutkan perjalanan dan berhasil merebut kembali daerah yang telah dikuasai belanda. Setelah soedirman mendapat sebuah surat dari komandan divisi II Gatot Soebroto yang juga sahabatnya, soedirmanpun kembali ke Yogyakarta. Namun sayang soedirman harus menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan sang istri dan anak anaknya.

Kekurangan dan Kelebihan
Kelebihan
*Kisahnya bagus, sangat mengharukan, bisa dijadikan inspirasi.
Kekurangan
*Bahasa yang digunakan sulit dipahami

Lihat dan baca juga Resensi bertemakan Sejarah disini

Sabtu, 03 Februari 2018

RESENSI BUKU KERAJAAN-KERAJAAN di INDONESIA

RESENSI BUKU

A.  IDENTITAS BUKU

Nama                    : KERAJAAN-KERAJAAN di INDONESIA
Pengarang            : Sulistiani
Penerbit                : PT. Widya Duta Grafika
Edisi / Cetakan     : Cetakan 1 tahun 2010
Jumlah Halaman  : 64 Halaman
Harga                   : RP.24.000
                                                                 




B.  SINOPSIS BUKU
Sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk pada 17 Agustus 1945, terlebih dahulu berdiri kerajaan – kerajaan di berbagai daerah di Nusantara. Kerajaan- kerajaan tersebut dapat dibedakan menjadi kerajaan yang bercorak agama Hindu, kerajaan yang bercorak agama Buddha, serta kerajaan yang bercorak agama Islam. Kehidupan kerajaan pada masa itu masih terpecah- pecah, bahkan saling bermusuhan. Kerajaan terbesar yang pernah menguasai wilayah Nusantara, antara lain, Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Kedua kerajaan itu berperan besar dalam pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Meskipun kerajaan – kerajaan di Indonesia sudah tidak ada lagi, namun keberadaannya telah mewariskan kebudayaan dan peninggalan sejarah yang tidak ternilai harganya dan peninggalan sejarah yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk melestarikan peninggalan budaya dan sejarah bangsa di masa lalu.




C.  KELEBIHAN BUKU
Kelebihan buku ini adalah memberikan wawasan tentang kerajaan- kerajaan yang berada di Indonesia baik Hindu, Buddha, dan Islam. Buku ini juga mudah untuk dipahami. Buku ini sangat cocok untuk para pemula yang ingin mengetahui kerajaan kerajaan di Indonesia.


D.  KEKURANGAN BUKU
Kekurangan dari buku ini adalah terdapat beberapa kerajaan yang memiliki penjelasan kurang lengkap.


Lihat dan baca juga Resensi bertemakan Sejarah disini

Kamis, 01 Februari 2018

RESENSI BUKU RORO JONGGRANG

 I. Identisas Buku.

Judul                     : Roro Jonggrang
Penulis                  : Tira Ikranegara
Tahun terbit          : 2007
Jumlah Halaman  : 112

II.Ringkasan.

Pada zaman dahulu berdiri dua kerajaan besar yaitu kerajaan pengging yang dipimpin oleh prabu damar moyo dengan putranya bandung bondowoso dan keraton boko yg dipimpin oleh prabu boko yang mempunyai putri cantik bernama roro jonggrang. Ia juga memiliki patih raksasa yaitu patih gupolo. Keraton boko ingin menguasai kerajaan pengging, dengan mengumpulkan kekuatan akhirnya keraton boko menyerang kerajaan pengging.
Mengetahui rakyatnya menderita, prabu damar moyo mengutus anaknya bandung bondowoso untuk membalaskan dendamnya kepada keraton boko. Dan terjadilah perang yang sangat sengit antara Bandung Bondowoso melawan Prabu Boko. Karena kesaktian Bandung Bondowoso prabu Boko dapat dibinasakan. Melihat rajanya tewas maka patih Gupolo melarikan diri dan Raden Bandung Bondowoso mengejar patih ke kerajaan kraton Boko.
Setelah Patih Gupolo melaporkan pada Putri Roro Jonggrang maka menangislah putri,sedih hatinya karena ayahnya tewas,dan Patih Gupolo pun pergi meninggalkan Kerajaan Kraton Boko. Sesampainya Bandung Bondowoso di Kraton Boko terkejutlah ia melihat Putri yang cantik jelita.
Seketika bandung bondowoso lupa akan tujuannya pergi ke keraton boko karena melihat kecantikan roro jonggrang, ia ingin menikahi putri roro ronggrang.
Tetapi, Putri roro jonggrang tidak semudah itu menerima bandung bondowoso, ia ingin dibuatkan 1000 candi dalam waktu 1 malam. Bandung bondowosopun menyanggupinya dan meminta bantuan pada jin. Saat bandung bondowoso mulai mengerjakan 1000 candi itu, roro jonggrang juga meminta bantuan dari gadis desa untuk menumbuk padi dengan lesung agar suasana cerah seperti pagi. Setelah para gadis menumbuk dan ayam berkokok para jin pergi, jin hanya sanggup menyelesaikan 999 candi.
Bandung bondowoso merasa curiga pada roro jonggrang, akhirnya ia mengetahui bahwa roro jonggrang telah berbuat licik dan terkutuklah putri roro jonggrang oleh bandung bondowoso menjadi candi yang ke-1000 dan para gadis yang ikut membantu juga dikutuk menjadi perawan tua.

Kekurangan: 
   Buku ini tidak disertakan gambar, sehingga kurang menarik untuk dibaca kalangan anak anak. Serta jenis kertas Yang digunakan kurang bagus.
Kelebihan:

   Ceritanya sistematis sehingga mudah dipahami oleh para pembaca.


----Lihat dan baca juga Resensi bertemakan Sejarah disini
----Baca juga Naskah Drama Roro Jonggrang Disini

Rabu, 31 Januari 2018

Resensi Buku Pelukis S . Sudjojono

Nama: Adelya Shafa Salsabila
Kelas:  X IPS 4
No: 01

·        Judul Buku           : Pelukis  S . Sudjojono
·        Penulis Buku        : Ajip Rosidi
·        Tahun Terbit         : 2000
·        Hak Penerbitan     : PT. Dunia Pustaka Jaya
·        Dicetak Oleh        : PT . Refika
·        Kota Terbit           : Bandung
·        Kelebihan Buku   : “ Ukuran tulisan sangat pas untuk dibaca . Bahasanya  mudah dimengerti. Buku ini membahas tentang biografi seorang pelukis yang bernama S . Sudjojono . Kertasnya berwarna putih polos.”
·        \Kekurangan Buku : “ Didalam buku terdapat gambar lukisan , tetapi sayang lukisannya berwarna hitam putih (monokrom) sehingga kesannya kurang menarik. Buku ini membahas biografi pelukis , tetapi tanggal,bulan,bahkan tahun kelahirannya tidak dicantumkan.”

Rangkuman buku :
Buku ini membahas tentang biografi pelukis yang bernama S . Sudjojono yang dilahirkan di Kisaran,Tebing Tinggi, Sumatra Utara. Sudjojono lahir dari keluarga transmigran asal pulau Jawa. ayahnya yang bernama Sindu Darmo, adalah mantri kesehatan di perkebunan karet Kisaran, Sumatra Utara , beristrikan seorang dukun yang mengobati berbagai macam penyakit . Ia lalu dijadikan anak angkat oleh seorang guru HIS, Yudhakusuma. Oleh bapak angkat inilah , Sudjojono diajak ke Jakarta pada tahun 1925. Ia menamatkan HIS di Jakarta , lalu memlanjutkan SMP di Bandung, dan menyelesaikan SMA diperguruan Taman Siswa Yogyakarta. Di Yogyakata itulah ia sempat belajar montir sebelum belajar melukis pada R.M.Pringade selama beberapa bulan . Sewaktu di Jakarta , ia belajar pada pelukis Jepang , Chioji Yazaki.

          Sudjojonosempat menjadi seorang guru di Taman siswaseusai lulus dari Taman Guru di perguruan yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantaraitu . Ia ditugaskan oleh Ki Hajar Dewantara untuk membuka sekolah baru di Rogojampi, Banyuwangitahun1931. Namun ia kemudian memutuskan untuk menjadi pelukis. Pada tahun 1937 ia ikut pameran bersama pelukis dari Eropa di Kunstring Jakarya , Jakarta. Inilah awal namanya dikenal sebga pelukis. Pada tahun itu juga ia menjadi pinoir mendirikan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI). Oleh karena itu, masa itu disebut tonggak awal seni lukis modern berciri Indonesia. Ia sempat menjabat sebagai sekertaris dan jubir PERSAGI. Selain sebagai pelukis, ia juga dikenal sebagai kritikus seni rupa pertama di Indonesia.

Lihat dan baca juga Resensi bertemakan Sejarah disini