Cari Disini

Minggu, 11 Februari 2018

Makalah Konsep Dasar Bimbingan Belajar

1. Konsep Dasar Bimbingan Belajar
a. Pengertian Bimbingan Belajar
Menurut A J Jones, bimbingan belajar merupakan suatu proses pemberian bantuan seseorang pada orang lain dalam menentukan pilihan dan pemecahan masalah dalam kehidupannya.
Menurut L D Crow dan A Crow, bimbingan belajar merupakan suatu bantuan yang dapat diberikan oleh seseorang yang telah terdidik pada orang lain yang mana usianya tidak ditentukan untuk dapat menjalani kegiatan dalam hidupnya.
Jadi, bimbingan belajar adalah suatu bentuk kegiatan dalam proses belajar yang dilakukan oleh seseorang yang telah memiliki kemampuan lebih dalam banyak hal untuk diberikan kepada orang lain yang mana bertujuan agar orang lain dapat menemukan pengetahuan baru yang belum dimilikinya serta dapat diterapkan dalam kehidupannya.
b. Latar Belakang Bimbingan Belajar
Suatu kegiatan yang dilaksanakan sudah pasti memiliki latar belakang. Demikian pula halnya dengan layanan bimbingan belajar. Kegiatan bimbingan belajar dilaksanakan karena dilatar belakangi oleh beberapa hal, sebagai berikut:
a) Adanya criterion referenced evaluation yang mana mengklasifikasikan siswa berdasarkan keberhasilan mereka dalam menguasai pelajaran. Dan kualifikasi itu, antara lain :
Siswa yang benar-benar dapat meguasai pelajaran.
Siswa yang cukup menguasai pelajaran.
Siswa yang belum dapat menguasai pelajaran.
b) Adanya kemampuan/tingkat kecerdasan dan bakat yang dimiliki oleh tiap siswa yang mana berbeda dengan siswa yang lainnya. Dimana klasifikasi siswa tersebut antara lain :
Siswa yang prestasinya lebih tinggi dari apa yang diperkirakan berdasarkan hasil tes kemampuan belajarnya.
Siswa yang prestasiya memang sesuai dengan apa yang diperkirakan berdasarkan tes kemampuan belajarnya.
Siswa yang prestasinya ternyata lebih rendah dai apa yang diperkirakan berdasarkan hasil tes kemampuan belajarnya.
c) Adanya penerapan waktu untuk menyelesaikan suatu program belajar. Dan klasifikasi siswa dalam hal ini antara lain :
Siswa yang ternyata dapat menyelesaikan pelajaran lebih cepat dari waktu yang disesuaikan.
Siswa yang dapat menyelesaikan pelajaran sesuai waktu yang telah disesuaikan.
Siswa yang ternyata tidak dapat menyelesaikan pelajaran sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
d) Adanya penggunaan norm referenced yang mana membandingkan prestasi siswa yang satu dengan yang lainnya. Dan klasifikasi siswa berdasarkan perstasinya itu antara lain :
Siswa yang prestasi belajarnya selalu berada di atas nilai rata-rata prestasi kelompoknya.
Siswa yang prestasi belajarnya selalu berada di sekitar nilai rata-rata dari kelompoknya.
Siswa yang prestasinya selalu berada di bawah nilai rata-rata prestasi kelompoknya.
Setelah mengetahui begitu banyak permasalahan yang dihadapi oleh setiap siswa dalam kegiatan belajarnya, maka diperlukanlah suatu bentuk layanan bimbingan belajar. Hal ini dimaksudkan agar para siswa yang memiliki permasalahan dalam belajarnya dapat segera memperoleh bantuan atau bimbingan dalam kegiatan belajar yang diperlukannya. Jadi, layanan bimbingan belajar sangat diperlukan oleh semua orang yang sedang melakukan proses atau kegiatan belajar.
c. Jenis Layanan Bimbingan Belajar dalam Kaitannya dengan PBM
Seorang guru dalam memberikan layanan bimbingan belajar harus tetap berporos pada terselenggaranya Proses Belajar Mengajar. Oleh karena itu, diperlukanlah suatu jenis layanan bimbingan belajar yang berkaitan dengan Proses Belajar Mengajar. Maka jenis layanan bimbingan belajar dalam konteks Proses Belajar Mengajar yang dapat dan seyogianya dijalankan oleh para guru, antara lain :
Mengumpulkan informasi mengenai diri siswa
Memberikan informasi mengenai berbagai kemungkinan jenis program dan kegiatan yang sesuai dengan karakteristik siswa.
Menempatkan siswa dengan kelompok belajar yang sesuai
Memberikan program belajar yang sesuai
Mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar
Membuat rekomendasi tentang kemungkinan usaha selanjutnya
Melakukan remedial teaching

5. Jadi ketermpilan belajar merupakan suatu kemampuan  atau kecakapan individu dalam proses belajar termasuk penerapan strategi dan metode belajar yang efektif dan efisien untuk mencapai prestasi yang optimal.
Macam-macam keterampilan belajar
a. Keterampilan belajar abstrak adalah keterampilan yang menggunakan cara-cara berfikir abstrak. Tujuanya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Contoh belajar matematika,belajar kimia,belajar tauhid.
b. Keterampilan belajar sosial adalah memahami masalah-masalah sosial dan cara memecahkanya. Contohnya belajar mengatasi masalah keluarga,kelompok dan masyarakat.
c. Keterampilan belajar rasional adalah keterampilan belajar yang menggunakan cara berfikir logis dan sistematis untuk memperoleh aneka ragam kecakapan dengan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep.
d. Keterampilan belajar pemecahan masalah adalah keterampilan belajar mengunakan metode-metode ilmiah atau befikir secara sistematis,logis, teratur dan teliti. Tujuanya untuk mencapai kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara lugas rasional dan tuntas.
e. Keterampilan belajar apresiasi  adalah keterampilan yang mempertimbangkan  arti penting atau nilai suatu objek. Jenis keterampilan belajar ini lebih menekankan kecakapan ranah rasa atau afektif skills. Contoh kesenian,kerajinan tangan ,bahasa.
f. Keterampilan belajart pengetahuan adalah keterampilan yang dilakukan dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu.
g. Keterampilan belajar Motorik adalah keterampilan yang di gunakan dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik. Contoh menari,melukis beramian musik elektronik.

Ada tiga faktor penting dalam penguasaan keterampilan untuk belajar :
Pola pikir dan sikap (mindset and attitude) kita terhadap  belajar harus ada.
Kemampuan kita untuk mendayagunakan kekuatan pikiran kita untuk mempercepat proses belajar (accelerated learning),contohnya denga pikiran bawah sadar kita
Disiplin diri dan kegigihan (self discipline and persistence).

6. Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif
Salah satu faktor penting yang dapat memaksimalkan kesempatan pembelajaran bagi anak adalah penciptaan lingkungan pembelajaran yang kondusif. Lingkungan pembelajaran dalam hal ini, adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Sedangkan kondusif berarti kondisi yang benar-benar sesuai dan mendukung keberlangsungan proses pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya, sehingga pada diri anak terjadi proses pengolahan informasi menjadi pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai hasil dari proses belajar.
Lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikian rupa, sehingga dapat memfasilitasi anak dalam melaksanakan kegiatan belajar. Lingkungan belajar dapat merefleksikan ekspektasi yang tinggi bagi kesuksesan seluruh anak secara individual. Dengan demikian, lingkungan belajar merupakan situasi yang direkayasa oleh guru agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Menurut Saroni (2006) dalam Kusmoro (2008), lingkungan pembelajaran terdiri atas dua hal utama, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial.
Lingkungan fisik dalam hal ini adalah lingkungan yang ada disekitar siswa belajar berupa sarana fisik baik yang ada dilingkup sekolah,  dalam hal ini dalam ruang kelas belajar di sekolah. Lingkungan fisik dapat berupa sarana dan prasarana kelas, pencahayaan, pengudaraan, pewarnaan, alat/media belajar, pajangan serta penataannya. Sedangkan lingkungan sosial merupakan pola interaksi yang terjadi dalam proses pembelajaran. Interaksi yang dimaksud adalah interkasi antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan sumber belajar, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, lingkungan sosial yang baik memungkinkan adanya interkasi yang proporsional antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
Menurut Mulyasa (2006), dalam upaya menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif bagi anak, guru harus dapat memberikan kemudahan belajar kepada siswa, menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai, menyampaikan materi pembelajaran, dan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar. Oleh karena itu, peran guru selayaknya membiasakan pengaturan peran dan tanggung jawab bagi setiap anak terhadap terciptanya lingkungan fisik kelas yang diharapkan dan suasana lingkungan sosial kelas yang menjadikan proses pembelajaran dapat berlangsung secara bermakna. Dengan terciptanya tanggung jawab bersama antara anak dan guru, maka akan tercipta situasi pembelajaran yang kondusif dan bersinergi bagi semua anak (Kusmoro, 2008).


7. Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar
Diagnosis merupakan istilah yang diadopsi dari bidang medis. Menurut Thorndik e dan Hagen (Abin S.M., 2002 : 307), diagnosis dapat diartikan sebagai :
a. Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, disease) apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejala-gejalanya (symtoms);
b. Studi yang seksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang esensial;
c. Keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang saksama atas gejala-gejala atau fakta-fakta tentang suatu hal. 
Dari ketiga pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa di dalam konsep diagnosis, secara implisit telah tercakup pula konsep prognosisnya. Dengan demikian dalam proses diagnosis bukan hanya sekadar mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.
Bila kegiatan diagnosis diarahkan pada masalah yang terjadi pada belajar, maka disebut sebagai diagnosis kesulitan belajar. Melalui diagnosis kesulitan belajar gejala-gejala yang menunjukkan adanya kesulitan dalam belajar diidentifikasi, dicari faktor-faktor yang menyebabkannya, dan diupayakan jalan keluar untuk memecahkan masalah tersebut. 

8. Kedudukan Diagnosis Kesulitan Masalah Belajar, dalam kegiatan Belajar dan Mengajar
Ketidakberhasilan dalam proses belajar mengajar dalam mencapai ketuntasan bahan tidak dapat dikembalikan kepada hanya satu factor yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Faktor yang dapat kita persoalkan adalah siswa yang belajar, jenis kesulitan yang dihadapi siswa dan kegiatan yang terlibat dalam proses.
Yang penting dalam kegiatan proses diagnostik masalah dalam belajar adalah menemukan letak masalah dan jenis masalah yang dihadapi siswa agar pengajaran perbaikannya (learning corrective) yang dilakukan dapat dilaksanakan secara efektif. Kegiatan diagnosis terutama harus ditujukan :
1. Bakat siswa yang berbeda.
2. Ketekunan dan tingkat usaha yang dilakukan siswa.
3. Waktu yang tersedia untuk menguasai ruang lingkup tertentu sesuai dengan bakat yang bersifat individual dan usaha yang dilakukannya.
4. Kualitas pengajaran yang tersedia
5. Kemampuan siswa untuk memahami tugas-tugas belajar.
6. Tingkat dari jenis kesulitan yang diderita siswa sehingga dapat ditentukan perbaikannya.


9. Pengertian Kesulitan Belajar
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian kesulitan belajar. Blassic dan Jones, sebagaimana dikutip oleh Warkitri ddk. (1990 : 8.3), menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh. Mereka selanjutnya menyatakan bahwa individu yang mengalami kesulitan belajar adalah individu yang normal inteligensinya, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan penting dalam proses belajar, baik persepsi, ingatan, perhatian, ataupun fungsi motoriknya.
Sementara itu Siti Mardiyanti dkk. (1994 : 4 – 5) menganggap kesulitan belajar sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan tersebut mungkin disadari atau tidak disadari oleh yang bersangkutan, mungkin bersifat psikologis, sosiologis, ataupun fisiologis dalam proses belajarnya.

10. jenis-jenis kesulitan belajar
a. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
b. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
c. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
d. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
e. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.




11.  Faktor-faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Menurut Burton, sebagaimana dikutip oleh Abin S.M. (2002 : 325-326), faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar individu dapat berupa faktor internal, yaitu yang berasal dari dalam diri yang bersangkutan, dan faktor eksternal, adalah faktor yang berasal dari luar diri yang bersangkutan.
1. Faktor Internal
Yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri mahasiswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor kejiwaan dan faktor kejasmanian.
a. Faktor kejiwaan, antara lain : 
minat terhadap mata kuliah kurang;
motif belajar rendah;
rasa percaya diri kurang;
disiplin pribadi rendah;
sering meremehkan persoalan; 
sering mengalami konflik psikis;
integritas kepribadian lemah.
b. Faktor kejasmanian, antara lain :
keadaan fisik lemah (mudah terserang penyakit);
adanya penyakit yang sulit atau tidak dapat disembuhkan;
adanya gangguan pada fungsi indera;
kelelahan secara fisik.

2. Faktor Eksternal
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah faktor yang berada atau berasal dari luar mahasiswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua : faktor instrumental dan faktor lingkungan.
a. Faktor instrumental
Faktor-faktor instrumental yang dapat menyebabkan kesulitan belajar mahasiswa antara lain :
Kemampuan profesional dan kepribadian dosen yang tidak memadai;
Kurikulum yang terlalu berat bagi mahasiswa;
Program belajar dan pembelajaran yang tidak tersusun dengan baik;
Fasilitas belajar dan pembelajaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan.

b. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan meliputi lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Penyebab kesulitan belajar yang berupa faktor lingkungan antara lain :
Disintegrasi atau disharmonisasi keluarga;
Lingkungan sosial kampus yang tidak kondusif;
Teman-teman bergaul yang tidak baik;
Lokasi kampus yang tidak atau kurang cocok untuk pendidikan.

12. langkah-langkah DKB dan penanganannya
Sebagai prosedur maka diagnosis kesulitan belajar terdiri dari langkah-langkah yang tersusun secara sistematis. Pendapat Roos dan Stanley tersebut dapat dioperasionalisasikan dalam memecahkan masalah atau kesulitan belajar mahasiswa dengan tahapan kegiatan sebagai berikut.
a. Mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar
Identifikasi mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar dilakukan dengan :

1. Menganalisis prestasi belajar
Dari segi prestasi belajar, individu dapat dinyatakan mengalami kesulitan bila : pertama, nilai yang bersangkutan lebih rendah dibanding nilai rata-rata klasnya; kedua, prestasi yang dicapai sekarang lebih rendah dari sebelumnya; dan ketiga, prestasi yang dicapai berada di bawah kemampuan sebenarnya.
2. Menganalisis periaku yang berhubungan dengan proses belajar.
Analisis perilaku terhadap siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar dilakukan dengan : pertama, membandingkan perilaku yang bersangkutan dengan perilaku siswa lainnya yang berasal dari tingkat atau kelas yang sama; kedua, membandingkan perilaku yang bersangkutan dengan perilaku yang diharapkan oleh lembaga pendidikan.
3. Menganalisis hubungan sosial
Intensitas interaksi sosial individu dengan kelompoknya dapat diketahui dengan sosiometri. Dengan sosiometri dapat diketahui individu-individu yang terisolasi dari kelompoknya. Gejala tersebut merupakan salah satu indikator kesulitan belajar.
b. Melokalisasi letak kesulitan belajar
Setelah siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar diidentifikasi, langkah berikutnya adalah menelaah :
pada mata pelajaran apa yang bersangkutan mengalami kesulitan;
pada aspek tujuan pembelajaran yang mana kesulitan terjadi;
pada bagian (ruang lingkup) materi yang mana kesulitan terjadi;
pada segi-segi proses pembelajaran yang mana kesulitan terjadi.

c. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kesulitan belajar
Pada tahap ini semua faktor yang diduga sebagai penyebab kesulitan belajar diusahakan untuk dapat diungkap. Tahap ini oleh para ahli dipandang sebagai tahap yang paling sulit, mengingat penyebab kesulitan belajar itu sangat kompleks, sehingga hal tidak dapat dipahami secara sempurna, meskipun oleh seorang ahli sekalipun (Koestoer dan A. Hadisuparto, 1998 : 21).
Teknik pengungkapan faktor penyebab kesulita belajar dapat dilakukan dengan : 1) observasi; 2) wawancara; 3) kuesioner; 4) skala sikap, 5) tes; dan 6) pemeriksaan secara medis.
d. Memperkirakan alternatif pertolongan
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan secara matang pada tahap ini adalah sebagai berikut.
Apakah siswa yang mengalami kesulitan belajar tersebut masih mungkin untuk ditolong ? 
Teknik apa yang tepat untuk pertolongan tersebut ?
Kapan dan di mana proses pemberian bantuan tersebut dilaksanakan ?
Siapa saja yang terlibat dalam proses pemberian bantuan tersebut ?
Berapa lama waktu yang diperlukan untuk kegiatan tersebut ?

e. Menetapkan kemungkinan teknik mengatasi kesulitan belajar
Tahap ini merupakan kegiatan penyusunan rencana yang meliputi : pertama, teknik-teknik yang dipilih untuk mengatasi kesulitan belajar dan kedua, teknik-teknik yang dipilih untuk mencegah agar kesulitan belajar tidak terjadi lagi. 
f. Pelaksanaan pemberian pertolongan
Tahap keenam ini merupakan tahap terakhir dari diagnosis kesulitan belajar mahasiswa. Pada tahap apa saja yang telah ditetapkan pada tahap kelima dilaksanakan. 

13. perlunya pengajaran remidial bagi siwa
Pengajaran remidial adalah suatu proses kegiatan pelaksanaan program belejar mengajar khusus yang bersifat individual, diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar, yang bersifatmengoreksi (menyembuhkan) siswa yang mengalami gangguan belajar sehingga dapat mengikuti proses belajar mengajar secara klasikal kembali untuk mencapai prestasi yang optimal
Pentingnya pengajaran remidial:
a. Siswa ternyata masih banyak yang mendapat nilai kurang. Selain itu ada perbedaan individual dalam proses belajarnya dan setiap individu memiliki latar belakang yang berbeda. Nmun dalam proses belajar mengajar dilakukan dengan kedekatan tak sama, melupakan perbedaan yang ada.
b. Guru, pada dasarnya guru bertanggung jawab atas keseluruhan proses pendidikan. Terhadap murid yang belum berhasil, guru bertanggung jawab membantu.
c. Proses remidial  diperlukan untuk melaksanakan proses belajar mengajar yang sebenarnya. Pada dasarnya suatu proses  belajar diartikan sebagai suatu proses pengubahan tingkah laku.
d. Pelayanan bimbingan. Melalui pelayanan BK setiap murid dapat memahami dirinya sendiri, memahami kelebihan dan kekurangannya serta dapat mengarahkan dirinya untuk mencapai perkembangan yang optimal.

Tujuan pengajaran remidial adalah agar siswa dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan melalui  proses penyembuhan atau perbaikan, baik segi proses balajar mengajar maupun kepribadian siswa.

14. pentingnya pengajaran pengayaan
Secara umum pengayaan dapat diartikan sebagai pengalaman atau kegiatan peserta didik yang melampaui persyaratan minimal yang ditentukan oleh kurikulum dan tidak  semua peserta didik dapat melakukannya.

Kamis, 08 Februari 2018

Makalah : Pengaruh Wabah Merokok Dikalangan Remaja Terhadap Prestasi Belajar Di Sekolah

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah S.W.T berkat rahmatnya saya di beri kesehatan dan kemudahan dalam menyelesaikan makalah ini. Tanpa rahmat Allah mungkin saya tidak dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui seberapa besar pengaruh wabah merokok terhadap prestasi belajar siswa di sekolah yang kini dirsa sudah sangat memprihatinkan. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah S.W.T akhirnya makalah ini dapat diselesaikan.

Makalah ini memuat tentang “Pengaruh Wabah Merokok Dikalangan Remaja Terhadap Prestasi Belajar Di Sekolah” dan sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.


BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Banyak di antara remaja yang merokok tanpa memperhatikan akibat-akibat dari kegiatan yang dilakukannya itu. Para remaja hanya mengedepankan keegoisan mereka,merasa bila mereka merokok itu di bilang keren oleh orang disekitarnya, merasa “kesetia kawanan”,kalau tidak merokok mereka merasa tidak enak pada teman lain yang merokok, dan atau mereka awalnya hanya mencoba-coba kebiasaan merokok orang lain tetapi ternyata ketagihan.
Para remaja tidak sadar bahwa banyak bahaya yang mengancam kesehatan mereka dan masa depan mereka,termasuk prestasi belajar mereka juga menurun secara perlahan tapi pasti.
Pada makalah ini metode penelitian didasarkan pada kenyataan yang terjadi dilapangan bercampur baur  dengan para remaja yang merokok. Sehingga masalah yang sedang terjadi ini menarik untuk di jadikan makalah.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah sebab para remaja merokok?
2. Apakah prestasi belajar itu?
3. Mengapa merokok dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar  di sekolah?
4. Bagaimana cara mengurangi dampak merokok terhadap prestasi belajar di sekolah?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui seberapa pengaruh rokok terhadap remaja.
2. Untuk mengetahui apa sebab para remaja merokok.
3. Untuk mengetahui seberapa pengaruh merokok terhadap prestasi belajar remaja.
4. Untuk mengetahui cara terbaik untuk mengurangi dampak merokok terhadap prestasi belajar remaja di sekolah.

BAB II
PEMBAHASAN
Setiap orang harus menjaga kesehatannya supaya memiliki jasmani dan rohani yang kuat dan sehat, sehingga dapat menjalani hidup dan kehidupannya. Untuk menjaga jasmani yang kuat dan sehat diperlukan rohani yang kuat dan sehat pula artinya rohani yang tidak mudah tergoda oleh berbagai godaan yang dapat menjerumuskan diri pada perbuatan yang merusak jasmani.Salah satu hal yang menjadi faktor rusaknya kesehatan jasmani dan rohani adalah merokok .
Faktor terbesar dari kebiasaan merokok dipengaruhi oleh faktor sosial atau lingkungan, dimana karakter seseorang banyak dibentuk oleh lingkungan sekitar, baik dari keluarga, tetangga, ataupun teman pergaulannya. Bersosialisasi merupakan cara utama pada anak-anak dan remaja untuk mencari jati diri mereka. Dengan melihat apa yang dilakukan orang lain dan kadang kala mencoba untuk meniru apa yang dilakukan orang lain. Hal itu merupakan suatu proses yang terjadi pada remaja untuk mencari jati diri dan belajar menjalani hidup bersosial. Namun sangat disayangkan, tidak hanya kebiasaan-kebiasaan yang baik saja yang ditiru melainkan juga kebiasaan-kebiasaan buruk, termasuk kebiasaan merokok.
Jika seseorang yang bukan perokok, hidup atau berkerja bersama dengan seorang perokok, secara otomatis salah satunya akan terpengaruh. Mungkin yang bukan perokok mulai mencoba merokok, mungkin juga sebaliknya yang perokok mengurangi konsumsi rokok. Baik disadari maupun tidak disadari, adaptasi tersebut dilakukan untuk berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan dan berusaha untuk diterima di lingkungan sosial-nya.
Berikut ini bahaya merokok secara umum :
1. Timbulnya penyakit kanker (kanker darah, kanker otak, kanker kulit)
2. Terjangkitnya penyakit jantung (kelainan jantung)
3. Timbulnya bercak-bercak di paru-paru (paru-paru berlubang)
4. Penyakit ginjal (karena tidak berfungsinya ginjal)
5. Wajah agak pucat , kaku agak kebiruan
6. Menimbulkan pusing dan sakit kepala
7. Mengganggu konsentrasi
8. Menyebabkan ketagihan
9. Bernapas pendek dan kurang stamina
10. nikotinnya akan memasuki otak dan berpengaruh pada saraf otak, serta menyebabkan jantung bekerja lebih cepat dengan meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.
Menurut Drs. H. Abu Ahmadi menjelaskan Pengertian Prestasi Belajar sebagai berikut: Secara teori bila sesuatu kegiatan dapat memuaskan suatu kebutuhan, maka ada kecenderungan besar untuk mengulanginya. Sumber penguat belajar dapat secara ekstrinsik (nilai, pengakuan, penghargaan) dan dapat secara ekstrinsik (kegairahan  untuk menyelidiki,  mengartikan situasi). Disamping itu siswa memerlukan/ dan harus menerima umpan balik secara langsung derajat sukses pelaksanaan tugas (nilai raport/nilai test) (Psikologi Belajar DRS.H Abu Ahmadi, Drs. Widodo Supriyono 151). Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian prestasi belajar ialah hasil usaha bekerja atau belajar yang menunjukan ukuran kecakapan yang dicapai dalam bentuk nilai. 
Tentulah para remaja menginginkan prestasi belajar yang tinggi tentunya agar cita-cita mereka dapat terwujud dan bisa membahagiakan orang tua. Para remaja menginginkan nilai setinggi-tingginya  nilai yang dapat mereka capai.
Namun dengan mereka merokok mungkin keinginan remaja itu dapat tidak terwujud. Itu bisa terjadi karena si remaja telah kecanduan atau mengalami ketergantungan merokok, disaat melakukan kegiatan belajar misal mengerjakan tugas sekolah atau kuliah, akan ada jeda waktu untuk berpikir karena mengalami kesulitan atau cukup waktu untuk menulis atau menjawab, buat perokok aktif terutama biasanya akan merokok disaat seperti itu, dari hal tersebut terjawab sudah bahwa disaat tidak merokok, perokok akan mengalami stress ringan atau agak berat.
Yang lainnya seperti dalam proses belajar mengajar disekolah atau dikampus, para remaja yang merokok mempunyai kecenderungan mempunyai daya konsentrasi yang rendah akibat banyak racun rokok yang masuk ke dalaam otak, akhirnyapun banyak pelajaran yang tidak masuk dalam proses penerimaan ilmu tersebut. Belum lagi apabila remaja itu mempunyai nafas yang pendek dan pusing juga karena efek negatif dari rokok, tentunya itu sangat berpengaruh bagi daya serap otak remaja terhadap pelajaran. Secara langsung efeknya adalah menurunnya prestasi belajar para remaja sekolah itu.
Para remaja pasti tidak menginginkan itu semua terjadi dalam hidupnya. Tentunya itu semua hanya dapat dicegah dengan cara menghilangkan kebiasaan merokok remaja itu sendiri. Walau awalnya mungkin itu terlihat susah tetapi ini harus dilakukan demi kebaikan remaja itu sendiri. Para remaja yang merokok, terlebih khususnya bagi yang sudah kecanduan dapat mengurangi sedikit demi sedikit kecanduannya itu. Salah satu caranya mungkin bila ada keinginan merokok muncul gantilah aktivitas merokok itu dengan permen atau makanan ringan lain untuk dikunyah atau mungkin juga para remaja dapat menghindari situasi atau lingkungan yang biasanya mengambil satu batang rokok. Tetapi apabila merokok hanya digunakan hanya sebagai untuk penenang saja,sebaiknya para remaja harus mencoba untuk mencari cara lain untuk mencapai efek yang sama. Aktif dalam kegiatan olahraga atau kegiatan di luar ruangan bisa mengurangi perasaan depresi

Bab III
PENUTUP
KESIMPULAN
Para remaja sebaiknya dapat membangkitkan kesadaran tentang bahaya merokok, kecanduan rokok, dampaknya terhadap prestasi belajar mereka di sekolah. Kebiasaan merokok sangat mengganngu bagi aktivitas otak mereka dalam proses belajar. Mulailah dari sekarang menghentikan aktivitas merokok, agar prestasi belajar semakin meningkat, masa depan cerahpun dapat dicapai dengan keadaan jasmani yang sehat tanpa adanya rokok.


DAFTAR PUSTAKA
1. http://jeniuspemalas.blogspot.com/2009/06/bahaya-merokok-untuk-pelajar.html
2. http://religiao.centralblogs.com.br/post.php href=bahaya+rokok+bagi+pelajar&KEYWORD=26525&POST=3933256
3. episentrum.com/search/hubungan%20antara%20merokok%20dengan%20prestasi%20belajar/

Makalah Persepsi

Pengertian Persepsi

Dilihat dari berbagai sumber, persepsi diartikan sebagai proses dengan mana kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indra kita. Persepsi adalah proses mental yang terjadi pada diri manusia yang akan menunjukkan bagaimana kita mendengar, melihat, merasakan, dan meraba disekitar kita dengan indera.
Menurut William James, persepsi adalah pengalaman yang terbentuk berupa data-data yang di dapat melalui indera, dan merupakan hasil pengolahan otak dan ingatan. Sedangkan menurut penulis, persepsi adalah sebuah proses berpikir yang ditangkap oleh alat indera yang berasal dari lingkungan sebagai wujud hasil pengolahan otak dengan ingatan.
 Proses Terbentuknya Persepsi

Disini penulis akan membahas berbagai hal yang sangat erat kaitannya dengan bagimana persepsi itu terjadi, proses yang mempengaruhi persepsi dan atribusi (attribution).

1. Proses persepsi
Proses terjadi karena adanya stimulus yang merangsang untuk ditangkap oleh panca indra, merangsang dalam arti menarik, kemudian stimulus yang berupa objek tersebut dibawa ke otak dan terjadi adanya kesan atau jawaban (respon) sebagai hasil kerja indra berupa persepsi.
Proses persepsi ini memerlukan perhatian, yakni konsep yang diberikan pada proses yang menseleksi input-input tertentu untuk diikut sertakan dalam suatu pengalaman yang kita sadari dalam waktu tertentu.

Penulis dapat mengilustrasikan bagaiman persepsi bekerja dengan menjelaskan berbagai langkah yang terlibat dalam proses ini. Tahap-tahap ini tidaklah saling terpisah benar namun dalam kenyataan ketiganya bersifat kontinyu, bercampur baur dan bertumpah tindih satu dengan yang lain.
Tahap tersebut ialah:

a. Terjadinya Stimulasi Alat Indra (Sensory Stimulation)
Pada tahap pertama alat-alat indra distimulasi (dirangsang), misalnya mendengar suara musik, meskipun kita memiliki kemampuan pengindraan untuk merasakan stimulus, kita tidak selalu menggunakannya. Sebagai contoh, bila anda melamun di kelas, anda tidak mendengar apa yang dikatakan guru sampai dia memanggil nama anda, barulah anda sadar. Ini merupakan contoh yang jelas bahwa kita akan menangkap apa yang bermakna bagi kita dan tidak menangkap apa yang kelihatannya tidak bermakna bagi kita.

b. Stimulasi Terhadap Alat Indra Diatur.
Pada tahap kedua, rangsangan terhadap alat indra diatur menurut berbagai prinsip. Salah satunya adalah prinsip proksimitas (proximity), atau kemiripan yaitu orang atau pesan yang secara fisik mirip satu sama lain dipersepsikan bersama-sama, atau sebagai satu kesatuan (unit). Contohnya kita mempersepsikan orang yang sering kita lihat bersama-sama sebagai satu unit (sebagai satu pasangan).
Prinsip yang lain yaitu kelengkapan (closure), kita memandang atau mempersepsikan suatu gambar atau pesan yang dalam kenyataannya tidak lengkap sebagai gambar atau pesan yang lengkap. Contohnya, kita mempersepsikan potongan lingkaran sebagai lingkaran penuh meskipun sebagian dari gambar itu tidak ada. Kita akan melengkapi pesan yang kita dengar dengan bagian-bagian yang tampaknya logis untuk melengkap pesan itu. Kemiripan dan kelengkapan hanyalah dua diantara banyak prinsip pengaturan yang akan kita singgung.

c. Stimulasi Alat Indra Ditafsirkan-Dievaluasi.
Langkah ketiga dalam perceptual adalah penafsiran-evaluasi. Langkah ketiga ini merupakan proses subyektif yang melibatkan evaluasi di pihak penerima. Penafsiran-evaluasi kita tidak semata-mata didasarkan pada rangsangan luar, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, kebutuhan, keinginan, sistem nilai, keyakinan tentang seharusnya, keadaan fisik dan emosi pada saat itu, dan sebagainya yang ada pada kita.
Banyak peluang bagi penafsiran mendapatkan pengaruh yang beragam. Walaupun kita semua menerima sebuah pesan, cara orang-orang menafsirkan dan mengevaluasinya tidaklah sama. Penafsiran-evaluasi ini juga akan berbeda dari satu orang yang sama dari waktu ke waktu. Suara musik pop-rock bagi seseorang mungkin terdengar hingar bingar namun bagi sebagian orang itu mungkin terdengar sebagai musik yang indah.
Perbedaan individu ini janganlah sampai membutakan kita akan validitas beberapa generalisasi tentang persepsi. Meskipun generalisasi ini belum tentu berlaku untuk seseorang tertentu, tampaknya ia berlaku untuk sebagian cukup besar orang.

2. Proses yang mempengaruhi persepsi
Kita akan mempelajari 6 proses utama yang mempengaruhi persepsi. (Cook, 1971; Rubin,1973; Rubin dan McNeil, 1985) Teori kepribadian implisit (implicit personality theory), ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy), aksentuasi perseptual (perceptual accentuation), primasi resensi (primacy-recency), konseisten (consistency), dan setereotiping (stereotyping).

a. Teori kepribadian implicit.
Ketika kita membaca pernyataan-pernyataan singkat berikut ini. Karakteristik dalam tanda kurung yang kelihatannya paling cocok untuk melengkapi kalimat tersebut akan muncul dengan sendirinya dari persepsi kita:
John bergirah, memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan (cerdas, kurang cerdas)
Joe periang, lincah, dan (langsing, gemuk)
Jane menarik, cerdas, dan (disukai, dibenci)

Kata tertentu tampaknya benar dan lainnya kelihatannya salah. Yang membuatnya kelihatan benar adalah teori kepribadian implisit, sistem aturan yang mengatakan bahwa seseorang yang bergairah mempunyai rasa ingin tahu yang besar pasti juga cerdas. Tentu saja, tidak ada alasan logis untuk mengatakan bahwa orang yang tidak cerdas tidak dapat bergairah dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar.

“Efek halo” yang banyak dikenal merupakan fungsi dari teori kepribadian imlpisit kita. Jika kita percaya bahwa seseorang mempunyai sejumlah kualitas positif, kita menyimpulkan bahwa ia juga mempunyai kualitas positif yang lain. “Efek halo terbalik” juga ada. Jika kita tahu bahwa seseorang memiliki kualitas negative, kita cenderung menyimpulkan bahwa orang itu memiliki kualitas negative yang lain.

Hambatan potensial, dua hambatan serius terhadap persepsi yang akurat seringkali timbul bila seseorang menerapkan teori kepribadian implicit:
• Mempersepikan kualitas-kualitas dalam diri seseorang menurut “teori” seharusnya dimilikinya, padahal kenyataannya tidak demikian.
• Mengabaikan karakteristik atau kualitas yang tidak sesuai dengan teori ini.
b. Proses ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya
Ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya terjadi bila kita membuat perkiraan atau merumuskan keyakinan yang menjadi kenyataan karena kita meramalkannya dan bertindak seakan-akan itu benar. 
Ada empat langkah dasar dalm proses ini:
1. Kita membuat prediksi atau membuat keyakinan tentang seseorang atau situasi. Misalnya kita meramalkan bahwa si A adalah orang yang cangggung dalam hubungan antar pribadi.
2. Kita bersikap kepada orang atau situasi tersebut seakan-akan ramalan atau keyakinan kita benar. Misalnya, di depan si A kita bersikap seakan-akan dia memang orang yang canggung.
3. Karena kita bersikap demikian (seakan-akan keyakian kita benar), ia menjadi kenyataan. Misalnya, karena cara kita bersikap di depan si A, maka dia menjadi tegang dan “salah-tingkah” dan menunjukkan kecanggungan.
4. Kita mengamati efek kita terhadap seseorang atau akibat terhadap situasi, dan apa yang kita saksikan memperkuat keyakinan kita. Misanya, kita menyaksikan kecanggungan si A, dan ini memperkuat keyakinan kita bahwa ia merupakan orang yang canggung.

Efek Pigmalion (Pygmalion Effect). Merupakan contoh yang termasyhur tentang ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya (Rosenthal & Jacobson, 1968; Jamieson, Lydon, Stewart, & Zanna, 1978). Dalam sebuah penelitian tentang efek ini, guru-guru diberitahukan bahwa beberapa murid tertentu diperkirakan berprestasi luar biasa—bahwa mereka hanya terlambat muncul. Para peneliti sebenarnya memilih nama-nama murid ini secara acak saja. Murid-murid yang namanya terpilih ternyata memang berpretasi lebih baik dari pada murid yang lainnya. Harapan dari pra guru ungkin membangkitkan perhatian ekstra pada murid-murid ini, dan karenanya secara positif mempengaruhi kinerja mereka.

Hambatan potensial, ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya dapt menimbulkan sua hambatan. Kecenderungan kita untuk memenuhi sendiri ramalan kita dabat meyebabkan kita:
• Mempengaruhi perilaku orang lain sehingga sesuai dengan ramalan kita.
• Melihat apa yang diramalkan ketimbang apa yang sebenarnya.
c. Aksentuasi Perseptual

“Tiada rotan akar pun jadi” adalah pepatah yang banyak kita jumpai dalam komunikasi. Untuk menjadi calon actor, peran sekecil apapun dan seperti apapun dalam sebuah film lebih baik dari pada tidak sama sekali. Proses ini yang dinamai aksentuasi perceptual, membuat kita melihat apa yang kita harapkan dan kita inginkan.

Dalam penelitian yang dilaporkan oleh Zick Rubbin (1973), mahasiswa-mahasiswa ria ikut serta dalam penelitian yang mereka angggap sebagai dua penelitian yang terpisah dan tidak berkaitan satu sama lain. Padahal sebenarnya keduanya adalah dua bagian dari eksperimen tunggal. Pada bagian pertama, masing-masing responden membaca sebuah bacaan. Setengah responden membaca bacaan yang merangsang. Setengahnya lagi membaca kisah tentang burung-burung camar di lautan. Pada bagian kedua dari eksperimen ini, responden diminta untuk menilai mahasiswi berdasarkan foto dan deskripsi diri mahasiswi ini. Seperti diduga, kelompok yang membaca bacaan yang merangsang menilai mahasiswi itu sebagai lebih menarik ketimbang kelompok yang lain. Selanjutnya responen yang mengharapkan berkencan dengan mahasiswi menilainya sebagai lebih reseptif seksual dari pada responden yang di beri tahu bahwa mereka akan diminta untuk berkencan dengan mahasiswi yang lain. Walaupun eksperimen itu secara dramatis mendemonstrasikan aksentuasi perceptual, proses umum yang sama terjadi setiap hari, yaitu orang yang haus melihat bayangan air (fatamorgana).

Hambatan potensial
• Mendistorsikan persepsi kita mengenai realitas, membuat kita melihat apa yang yang kita butuhkan atau inginkan dari pada pada kenyataan yang ada, dan tidak melihat apa yang tidak ingin kita lihat.
• Menyaring atau mendistorsi informasi yang mungkin merusak atau mengancam citra diri kita dan dengan demikian sangat mempersulit upaya peningkatan diri.
• Memandang orang lain memiliki karakteristik atau kualitas negatif yang sebenarnya ada pada diri kita—psikoanalisis mekanisme defenif (defense mechanism) menamai ini proyeksi.
• Melihat dan mengingat kualitas atau karakteristik positif lebih dari pada yang negatif (dinamai efek poliana), dan dengan demikian mendistorsi persepsi kita tentang orang lain.
• Merasakan perilaku tertentu dari orang lain sebagai menunjukkan bahwa ia ingin menyukai kita hanya karena sebenarnya kita ingin disukai.

d. Primasi-Resensi
Dalam penelitian awal tentang efek primasi-resensi pada presepsi antar pribadi, Solomon Asch (1946) membacakan daftar ajektif (kata sifat) yang menguraikan seseorang di depan sekelompok responden dan menjumpai bahwa pengaruh urutan sangat penting. Orang yang dilukiskan sebagai “cerdas, tekun, implusif, kritis, keras kepala, dan dengki’ dinilai lebih positif dibandingkan dengan orang yang dilukiskan sebagai “dengki, keras kepala, kritis, implusif, tekun, dan cerdas”.
Implikasi disini adalah bahwa kita menggunakan informasi yang datang lebih dulu untuk mendapatkan gambaran umum seperti apa gambaran itu. Kemudian kita menggunakan informasi yang datang belakangan untuk membuat gambaran umum ini lebih spesifik.
Implikasi praktis dari efek primasi-resensi ini adalah bahwa kesan pertama yang tercipta tampaknya paling penting. Melalui kesan pertama ini, orang lain akan menyaring tambahan informasi untuk merumuskan gambaran tentang seseorang yang mereka persepsikan.

Hambatan potensial.
• merumuskan gambaran “menyeluruh” tentang seseorang berdasarkan kesan awal yang belum tenu akurat.
• Mendistorsi persepsi yang akan datang kemudian untuk merusak kesan pertama kita. Sebagi contoh, anda mungkin tidak memperhatikan tanda-tanda kecurangan yang telah memberikan kesan pertama yang baik.

e. Konsistensi
Seseorang menpunyai kecenderungan yang kuat untuk menjaga konsistensi atau keseimbangan diantara persepsi-persepsinya. Konsisten menggambarkan kebutuhan untuk melihat keseimbangan di antara sikap-sikap yang dimiliki. Kita akan memperkirakan bahwa hal-hal tertentu selalu muncul bersama-sama dan hal-hal lain tidak akan muncul bersama-sama.
Menurut kebanyakan teori konsistensi, harapan kita akan muncul bersama-sama sebagai berikut :
1. Kita berharap seseorang kita sukai menyukai
2. Dan orang yang tidak kita sukai untuk tidak menyukai kita
3. Kita berharap seorang teman akan menyukai teman kita yang lain
4. Dan tidak menyukai musuh kita
5. Kita berharap musuh kita tidak menyukai teman kita
6. Dan menyukai musuh kita yang lain

Konsistensi dapat menimbulkan hambatan utama :
• Mengabaikan atau mendistorsi persepsi tentang perilaku yang tidak konsestensi dengan gambaran kita mengenai seseorang secara utuh.
• Mempersepsikan perilaku spesifik sebagai terpancar dari kualitas positif orang yang kita sukai dan dari kualitas orang yang tidak kita sukai. Oleh karenanya kita tidak mampu melihat perilaku positif maupun negative.
• Melihat perilaku tertentu sebagai positif jika perilaku yang lain ditafsirkan sebagi positif (efek halo) atau sebagai negative jika perilaku yang lain diafsirkan secara negatif (efek halo terbalik).

f. Stereotiping
Jalan pintas yang sering digunakan dalam persepsi adalah stereotyping. Awal mulanya stereotype adalah istilah dalam bidang percakapan yang mengacu pada suatu pelat yang mencetak citra (gambar atau tulisan) yang sama berulang-ulang.
Misal : jika kita berjumpa dengan seorang tuna susila, kita akan menganggap bahwa semua ciri yang dimilki kelompok tuna susila dimiliki pula oleh orang lain. Lebih rumit lagi kita mungkin melihat dalam perilaku orang ini manifestasi dari berbagai karakteristik yang tidak akan kita lihat kalau saja kita tidak tahu bahwa orang ini adalah tuna susila. Stereotype mendistorsi kemampuan kita untuk mempersepsikan orang lain secara akurat. Stereotipe menghalangi kita untuk melihat seseorang sebagai seseorang dan bukan sekedar sebagai anggota suatu kelompok.
Stereotype dapat menimbulkan hambatan utama kecenderungan kita untuk mengelompokkan orang ke dalam kelas-kelas dan bereaksi terhadap seseorang terutama sebagai anggota kelas-kelas ini dapat membuat kita :
• Mempersepsikan seseorang seakan-akan memiliki kualitas-kualitas tertentu (biasanya negative yang kita yakini merupakan cirri kelompok di mana ia menjadi anggotanya (misalnya, semua orang di bawah nauangan bintang Venus bersifat malas) dan karenanya tidak mampu mengenali sifat multiaspek dari semua orang dan semua kelompok.
• Mengabaikan ciri khas yang dimilki seseorang dan karenanya tidak mampu menarik manfaat dari kontribusi khusus yang dapat diberikan setiap pihak dalam suatu perjumpaaan.
3. Membuat Persepsi Lebih Akurat
Efektivitas komunikasi dan hubungan bergantung sebagian besar pada keakuratan kita dalam persepsi antarpribadi. Kita dapat meningkatkan akurasi kita dengan :
1. Startegi untuk mengurangi ketidakpastian
Asumsi umum yang digunakan di sini ialah bahwa komunikasi merupakan proses bertahap gradual di mana orang saling mengurangi ketidakpastian tentang yang lain. Dengan tiap-tiap interaksi anda semakin mengenal pihak lain dan secara beranggsur-angsur mulai mengenal orang itu pada tingkat yang lebih bermakna. Charles Berger dan James Bradac (1982) mengidentifikasi 3 strategi utama untuk mengurangi ketidakpastian : strategi pasif, aktif dan interaktif.
 Strategi pasif
Strategi mengamati orang lain tanpa orang itu sadar bahwa dia sedang kita amati dan kita menerapkan strategi pasif.
 Strategi aktif
Strategi yang aktif mencari informasi tentang seseorang dengan cara apa pun selain berinteraksi dengan orang itu, kita menerapkan strategi aktif. Kita memanipulasi lingkungan dengan cara tertentu sehingga kita dapat mengamati seseorang secara lebih spesifik dan jelas. Wawancara lamaran pekerjaan, menonton teater, atau mengajar mahasiswa merupakan contoh-contoh cara di mana orang memanipulasi situasi untuk melihat bagaimana seseorang mungkin beraksi dan bereaksi, dengan demikian mengurangi ketidakpastian tentang orang itu.
 Strategi interaktif
Strategi dengan berinteraksi dengan seseorang, kita menerapkan strategi interaktif.
 Peran Persepsi
Persepsi memiliki beberapa peran diantaranya
1. Menilai suatu keadaan dan mengenali apa yang tengah kita amati
2. Bertindak sesuai dengan rangsangan yang tertangkap oleh indra
 Dampak Perbedaan Persepsi
Persepsi yang merupakan bentuk hasil berpikir bisa saja berbeda antara orang satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini biasanya disebabkan oleh perbedaan pengalaman yang pernah dirasakan setiap orang. Misalnya saja bagi si A ketika melihat temannya tertunduk sambil memegang kepala sudah menunjukkan bahwa teman tersebut pusing. Tapi berbeda dengan si B yang memendang bahwa teman tersebut sedang berpikir keras.
Perbedaan persepsi ini akan berdampak pada perbedaan perlakuan yang akan kita tunjukkan atau respon kita. Selain hal ini dampak lain misalnya timbulnya konflik karena perbedaan respon.
Upaya menyelaraskan Persepsi
Di samping menghindari hambatan-hambatan potensial dalam berbagai proses persepsi yang di kemukakan sebelumnya dan menerapkan ketiga strategi untuk mengurangi ketidakpastian serta menyelaraskan persepsi. Beberapa saran yang akan membantu :
1. Sebaiknya kita mencarilah berbagi petunjuk yang menunjuk kearah yang sama. Makin banyak petunjuk perceptual yang menuju ke arah yang sama, makin besar kemungkinan kesimpulan kita benar
2. Berdasarkan pengamatan kita atas perilaku, maka dapat kita rumuskan hipotesis
3. memperhatikan petunjuk-petunjuk yang kontradiktif, petunjuk yang akan menolak hipotesis awal
4. Jangan menarik kesimpulan sampai kita memiliki kesempatan untuk memproses beragam petunjuk
5. Ingat bahwa betapa pun banyaknya perilaku yang kita amati dan betapa pun cermatnya kita meneliti perilaku ini, kita hanya dapat menduga apa yang ada dalam benak orang lain
6. Jangan menganggap orang lain seperti kita, berpikir seperti cara kita berpikir atau bertindak seperti yang kita lakukan, menyadari keragaman manusia
7. Waspada terhadap bias kita sendiri sebagai contoh hanya menerima hal-hal positif pada diri orang yang anda sukai dan hanya menerima hal-hal yang negative pada diri orang yang tidak kita sukai.
 Kesimpulan
Persepsi adalah pengalaman yang terbentuk berupa data-data yang di dapat melalui indera, dan merupakan hasil pengolahan otak dan ingatan
Proses Terbentuknya Persepsi
- Proses persepsi
- Proses yang mempengaruhi persepsi
- Membuat Persepsi Lebih Akurat
Peran Persepsi
1. Menilai suatu keadaan dan mengenali apa yag tengah kita amati
2. Bertindak sesuai dengan rangsangan yang tertangkap oleh indra
Dampak Perbedaan Persepsi
Perbedaan persepsi akan berdampak pada perbedaan perlakuan yang akan kita tunjukkan atau respon kita. Selain hal ini dampak lain misalnya timbulnya konflik karena perbedaan respon.
 Saran
Makalah ini kuranglah dari sempurna, jadi kami mohon saran dan kritiknya demi kesempurnaan makalah ini. Terima kasih.

Pendapat Saya tentang Antropologi

Menurut saya , antropologi adalah ilmu yang sangat menarik karena mengkaji aspek-aspek kehidupan sosial masyarakat baik aspek sosial ,apek budaya ,aspek politik dan lain-lain.Dari artikel diatas saya berpendapat bahwa Antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang fenomena-fenomena dalam masyarakat yang kadang luput dari perhatian masyarakat lain .Fenomena tersebut menjadi bahan yang menarik untuk antropologi.
                Antropologi juga perlu adanya penelitian-peneitian  untuk mengetahui suatu fenomena yang terjadi dalam masyarakat .Penelitian ini juga terdapat beberapa kendala-kendala salah satunya adalah pendanaan .Andai saja dana itu cukup maka mungkin penelitian bejalan dengan baik dan menghasilkan  suatu laporan dan kesimpulan .
                Kebanyakan orang mengenal antropologi hanyalah ilmu yang mempelajari tentang manusia saja.Padahal lebih dari itu Antropologi juga mempelajari hal-hal lain seperti kebudayaan ,etnis ,suku ,bahasa dan lain-lain.Mungkin penyebabnya karena Antopologi tidak menjadi mata pelajaran di SMA khususnya IPS.Seharusnya Antropologi menjadi mata pelajaran di IPS jangan cuma ada di bahasa .
                Dari artikel di atas juga saya berpendapat bahwa Antropoogi adalah ilmu yang selalu berkembang dari dulu hingga sekarang .Antropologi bukan merupakan ilmu yang stagnan melainkan Antropologi adalah imu yang selalu berkembang dari dahulu sampai sekarang mengikuti kemajuan jaman dan kemajuan masyarakat sebagai kajiannya .
                Pada awal kemunculan Antropologi para ahli hanya mengamati ciri fisik manusia saja .Tetapi Antropologi sekarang cakupannya lebih luas dan terus mengalami perkembangan yang cukup pesat .Walaupun pada awalnya Antropologi berkembang hanya di kawasan eropa saja namun ,Antropologi sekarang kajianya sudah mencakup hampir masyarakat dunia.Meskipun Antropoogi termasuk ilmu yang masih muda di antara ilmu-ilmu lain tetapi,Antropologi menjadi sangat menarik untuk di pelajari karena masih banyak fenomena-fenomena yang terjadi di dalam masyarakat.
                Antropologi juga menuntut untuk menjadi masyarakat yang toleran dan menghargai perbedaan atau keragaman antara yang satu dengan yang lain .Karena banyak perbedaan-perbedaan yang terdapat di dalam masyarakat baik seacara fisik maupun non fisik.Perbedaan menjadi bahan yang menarik bagi Antropologi,Semakin banyak perbedaan maka semakin banyak pula kajian Antropologi.
                Antropologi di Indonesia pada mulanya tidak di pelajari di perguruan tinggi.  Namun,seiring berjalannya waktu Antropologi sekarang menjadi jurusan sendiri di perguruan tinggi.Universitas Indonesia (UI)adalah universitas pertama yang membuka jurusan Antropologi.Tetapi,sekarang sudah banyak perguruan tinggi yang membuka jurusan Antropologi seperti UGM,UNDIP,UNPAD,dan lain-lain.Hal ini menunjukan bahwa Antropologi di Indonesia sudah berkembang cukup pesat secara pembelajarannya yang pada awalnya hanya ilmu yang dianggap sebelah mata menurut sebagian orang sekara ng telah menjadi salah satu jurusan favorit di perguruan tinggi tersebut.

Minggu, 04 Februari 2018

Review jurnal “Pelaksanaan Promosi Pegawai Negeri Sipil Di Dinas Pendidikan Kota PalopoOleh I M R A N (E 211 07 075)“

A. Latar Belakang
Unsur penentu utama dalam mewujudkan tujuan organisasi secara  efektif dan efisien adalah sumber daya manusia. Di dalam setiap  organisasi terdapat berbagai macam sumber daya lain yaitu uang,  material, mesin, dan metode, namun tanpa campur tangan dari unsur  manusia, unsur-unsur lain tersebut tidak akan bergerak sendiri. Manusia adalah penggerak dan pengguna dari seluruh unsur yang ada di dalam organisasi.
Pemerintah secara sistematis telah mengembangkan kiat-kiat pendayagunaan   pegawai  dan  birokrasi  pemerintahan   denga  maksud untuk  mewujudkan  nilai-nilai  dasar  yang  disebutkan  di    atas.  Dalam rencana pembangunan empat tahunan tertuang program-program penertiban dan penyempurnaan kelembagaan, kepegawaian, dan tatalaksana   pemerintahan.   Pemerintah   menyadari   bahwa   titik   paling strategis  untuk  memperbaiki  penampilan  kinerja  pemerintahan  adalah melalui pembinaan sumber daya manusianya,  khususnya melalui pembinaan profesionalisme staf. Pegawai pada tingkat staf perlu memiliki kualitas responsif, fleksibel, konsisten, bersih, kompeten, bijaksana, berproses   kerja   layak,   patuh,   dan   bertanggung   jawab.   Satf   yang memenuhi   persyaratan-persyaratan   yang  berkualitas   seperti  ini  akan mampu  berfungsi  dan berperilaku  layak  dalam  memenuhi  harapan  dan aspirasi publiknya (Suradinata, 2002).

B. Pembahasan
Konsep Analisis Jabatan
Unsur  utama  dalam  setiap  program  manajemen   kepegawaian adalah analisis jabatan dimana akan diperoleh informasi tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan suatu jabatan. Analisis jabatan akan menghasilkan dua dokumen penting yaitu uraian jabatan dan  persyaratan jabatan yang nantinya akan sangat diperlukan dalam menentukan dan menempatkan seseorang sesuai dengan pendidikan dan pelatihan kepimpinan, serta kompetensi yang dimilikinya dalam suatu organisasi.
1.  Pengertian Analisis Jabatan
Analisis jabatan (job analysis) yang disebut juga analisis pekerjaan terdiri dari dua kata yaitu job dan analysis. Job disini ada yang menterjemahkannya tugas dan ada juga jabatan serta pekerjaan. Analysis berasal dari kata to analyze yang berarti memisah-misahkan atau menguraikan.   Jadi   yang   dimaksudkan   dengan   analisis   jabatan   (job analysis) adalah uraian jabatan/pekerjaan.
Menurut Moekijat (1992:3) yang dimaksud dengan analisis jabatan adalah:  “suatu  prosedur  melalui  mana  fakta-fakta  yang  berhubungan dengan masing-masing  jabatan diperoleh untuk dikumpulkan dan dicatat secara sistematis.”
Sedangkan  menurut  Munthe (1993:4)  yang dimaksudkan  dengan analisis jabatan adalah: “Suatu proses untuk mendapatkan dan mencatat fakta-fakta   atau  informasi   suatu  jabatan   tertentu,   informasi   tersebut meliputi tugas-tugas, kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab.” Dari pendapat di atas dapat penulis artikan analisis jabatan secara sistematis mengumpulkan, menilai dan menyusun informasi tentang jabatan-jabatan.
2.  Prosedur Analisis Jabatan
Prosedur analsis jabatan sangat penting sekali untuk diketahui, karena merupakan pedoman dalam melaksankan analisis jabatan. Moekijat(1992:55) menyatakan prosedur analisis jabatan meliputi:

1.  Perencanaan analisis jabatan.
2.  Pemilihan jabatan-jabatan yang akan dianalisis.
3.  Apa yang dianalisis.
4.  Jenis informasi jabatan.
5.  Orang-orang   yang   bertanggung   jawab   untuk   mengumpulkan informasi analisis jabatan.
6.  Metode analisis jabatan.
7.  Siapa yang bertanggung jawab untuk menganalisis jabatan.
Dengan memperhatikan prosedur analisis jabatan diharapkan akan dihasilkan analisis yang dapat dipertanggung jawabkan dan dapat dipergunakan untuk perencanaan organisasi dan pegawai di dalam suatu instansi atau organisasi pemerintah.
Prinsip-prinsip Analisis Jabatan
Dalam  menganalisis  jabatan  ada  beberapa  prinsip-prinsip  yang perlu diperhatikan, menurut Moekijat (1992: 58) adapun prinsip-prinsip analisis jabatan yaitu:
1.  Analisis jabatan hendaknya memberikan semua fakta yang penting yang ada hubungannya dengan jabatan.
2.  Suatu  analisis  jabatan  hendaknya  memberikan  fakta-fakta  yang diperlukan untuk bermacam-macam tujuan.
3.  Analisis  jabatan  hendaknya  sering  ditinjau  kembali  dan  apabila perlu diperbaiki
4.  Analisis jabatan hendaknya dapat memberikan informasi yang tepat, lengkap dan dapat dipercaya.
Dengan memperhatikan prinsip-prinsip analisis jabatan, diharapkan hasil yang diperoleh benar-benar berkualitas dan dapat dipergunakan oleh organisasi dalam melakukan analisis penyusunan perencanaan organisasi dan pegawai.
5.  Manfaat Analisis Jabatan
Analisis jabatan mempunyai manfaat atau kegunaan yang sangat penting bagi karyawan  maupun organisasi  secara menyeluruh.  Menurut Tohardi   (2002  :  115)  analisis  jabatan  mempunyai   manfaat   sebagai berikut :
1.       Pengadaan tenaga kerja
Adanya spesifikasi jabatan yang dihasilkan dari analisis jabatan dapat digunakan  sebagai  standar  dalam  menyeleksi  calon karyawan.  Dimana calon pelamar yang diterima adalah mereka yang sesuai dengan standar yang ada pada spesifikasi jabatan tersebut
2.  Pelatihan
Adanya deskripsi jabatan yang dihasilkan  dari analisis jabatan dapat memberikan  informasi  mengenai  keterampilan  atau  pengetahuan  apa yang  perlu  ditingkatkan   pada  karyawan.   Dengan   demikian   program pelatihan dan pengembangan menjadi tidak sia-sia.
3. Evaluasi jabatan
Dengan adanya deskripsi jabatan yang dihasilkan dari analisis jabatan dapat digunakan untuk pembanding sejauh mana seseorang pekerja telah berhasil melaksanakan pekerjaannya.
4. Penilaian prestasi
Hampir  sama  dengan  evaluasi  jabatan,  dengan  adanya  deskripsi jabatan maka dapat digunakan untuk menilai prestasi, sejauh mana tugas- tugas yang diemban tersebut telah dilaksanakan.
5. Promosi dan transfer
Adanya deskripsi jabatan dan spesifikasi jabatan yang dihasilkan dari analisis jabatan akan memudahkan dalam proses transfer, dengan data- data yang ada pada deskripsi jabatan dan spesifikasi, jabatan akan memudahkan  dalam  menempatkan  seseorang  sesuai  dengan keterampilan, pengetahuan, bakat serta minat seseorang.
6. Pembenahan organisasi
Dengan adanya analisis jabatan dapat dilihat beberapa kekurangan organisasi,  untuk  itu  dapat  digunakan  sebagai  indikator  dalam  upaya- upaya perbaikan (pembenahan) organisasi.
7. Orientasi
Adanya deskriptif jabatan dan spesifikasi jabatan yang dihasilkan dari analisis jabatan akan berguna untuk menjelaskan  kepada pagawai baru dalam program orientasi. Pegawai baru akan menjadi tahu dengan pasti apa yang akan ia kerjakan, bagaimana cara mengerjakannya, siapa atasannya, siapa bawahannya,  apa wewenang,  apa yang akan menjadi tanggung jawabnya dan seterusnya.
8. Memperbaiki aliran pekerjaan

Aliran kerja yang tidak efektif dan efisien perlu diperbaiki, sebagai landasan untuk memperbaiki aliran kerja tersebut dapat menggunakan deskripsi jabatan yang dihasilkandari analisis jabatan.

REVIEW PRINSIP ANALISIS JABATAN

Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor penting dalam organisasi. Sumber daya manusia adalah potensi manusiawi  sebagai penggerak organisasi dalam mewujudkan eksistensinya. Dalam perkembangannya, organisasi akan menghadapi berbagai permasalahan SDM yang kompleks, oleh karena itu diperlukan adanya suatu sistem pengelolaan yang menangani SDM atau dengan kata lain Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM).

Hal yang menjadi fokus utama dalam MSDM yaitu meningkatkan kinerja organisasi baik dari segi produktivitas, pelayanan maupun kualitas untuk mencapai tujuan utama organisasi. Maka dalam implementasinya, MSDM akan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang akan mendukung tercapainya tujuan organisasi. Salah satu kegiatan yang memiliki peranan penting dalam MSDM yaitu analisis jabatan. Menurut Dale Yonder, analisis jabatan adalah suatu prosedur untuk memperoleh informasi jabatan secara sistematis. Dalam melaksanakankan analisis jabatan ada beberapa prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu:

    Proses analisis jabatan dilakukan untuk memahami tanggung jawab pada setiap jabatan dan kontribusi hasil jabatan tersebut terhadap pencapaian hasil atau tujuan organisasi.
    Objek dari kegiatan analisis ini adalah jabatan, bukanlah si pemegang jabatan yang memangku jabatan tersebut. Meskipun data diperoleh dari si pemegang jabatan (incumbent) melalui pengamatan, wawancara atau pun kuesioner/angket, produk yang menjadi hasil analisis jabatan adalah berupa uraian jabatan (job description) atau spesifikasi jabatan (specifications of the job), bukan suatu uraian tentang orang (description of the person).
    Jabatan yang akan dideskripsikan kedalam uraian jabatan merupakan jabatan yang sesuai dengan struktur organisasi pada saat ini.

Hasil dari analisis jabatan yaitu berupa uraian jabatan (job description) dan spesifikasi jabatan (job spesification). Uraian jabatan adalah uraian tentang informasi dan karakteristik jabatan yang akan membedakan antara satu jabatan dengan jabatan lainnya, misalnya nama jabatan, uraian tugas, hasil kerja, bahan kerja, tanggung jawab dan wewenang jabatan. Sementara spesifikasi jabatan adalah kualifikasi yang harus dipenuhi untuk menduduki suatu jabatan, seperti pendidikan, pelatihan, pengalaman kerja, bakat dan temperamen. Uraian jabatan dan spesifikasi jabatan inilah yang kemudian dijadikan landasan dalam MSDM lainnya, diantaranya sebagai landasan untuk melakukan evaluasi jabatan, rekruitmen, seleksi, pelatihan, promosi, penempatan pegawai baru,  dan menentukan standar hasil kerja seseorang serta merencanakan perubahan-perubahan dalam organisasi.

Pelaksanaan analisis jabatan yang tepat akan menghasilkan standar suatu jabatan yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Hasil dari analisis jabatan akan membantu SDM dalam memahami jabatan yang akan atau sedang diduduki, selain itu juga memudahkan organisasi dalam menempatkan SDM pada suatu jabatan, serta me

Definisi ETNIK

Pada awalnya istilah etnik hanya digunakan untuk suku-suku tertentu yang dianggap bukan asli Indonesia, namun telah lama bermukim dan berbaur dalam masyarakat, serta tetap mempertahankan identitas mereka melalui cara-cara khas mereka yang dikerjakan, dan atau karena secara fisik mereka benar-benar khas. Misalnya etnik Cina, etnik Arab, dan etnik Tamil-India. Perkembangan belakangan, istilah etnik juga dipakai sebagai sinonim dari kata suku pada suku-suku yang dianggap asli Indonesia. Misalnya etnik Bugis, etnik Minang, etnik Dairi-Pakpak, etnik Dani, etnik Sasak, dan ratusan etnik lainnya. Malahan akhir-akhir ini istilah suku mulai ditinggalkan karena berasosiasi dengan keprimitifan (suku dalam bahasa inggris diterjemahkan sebagai ‘tribe’), sedangkan istilah etnik dirasa lebih netral. Istilah etnik sendiri merujuk pada pengertian kelompok orang-orang, sementara etnis merujuk pada orang-orang dalam kelompok. Dalam buku ini keduanya akan digunakan secara bergantian tergantung konteksnya.
Dalam Ensiklopedi Indonesia disebutkan istilah etnik berarti kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa, dan sebagainya. Anggota-anggota suatu kelompok etnik memiliki kesamaan dalam hal sejarah (keturunan), bahasa (baik yang digunakan ataupun tidak), sistem nilai, serta adat-istiadat dan tradisi.
Menurut Frederich Barth (1988) istilah etnik menunjuk pada suatu kelompok tertentu yang karena kesamaan ras, agama, asal-usul bangsa, ataupun kombinasi dari kategori tersebut terikat pada sistem nilai budayanya. Kelompok etnik adalah kelompok orang-orang sebagai suatu populasi yang :
Dalam populasi kelompok mereka mampu melestarikan kelangsungan kelompok dengan berkembang biak.
Mempunyai nila-nilai budaya yang sama, dan sadar akan rasa kebersamaannya dalam suatu bentuk budaya.
Membentuk jaringan komunikasi dan interaksi sendiri.
Menentukan ciri kelompoknya sendiri yang diterima oleh kelompok lain dan dapat dibedakan dari kelompok populasi lain.
Definisi etnik diatas menjelaskan pembatasan-pembatasan kelompok etnik yang didasarkan pada populasi tersendiri, terpisah dari kelompok lain, dan menempati lingkungan geografis tersendiri yang berbeda dengan kelompok lain. Seperti misalnya, etnik Minang menempati wilayah geografis pulau Sumatera bagian barat yang menjadi wilayah provinsi Sumatera Barat saat ini dan beberapa daerah pengaruh di provinsi sekitar. Lalu etnik Sunda menempati wilayah pulau jawa bagian barat. Dan etnik Madura menempati pulau madura sebagai wilayah geografis asal.

Sabtu, 03 Februari 2018

RESENSI BUKU KERAJAAN-KERAJAAN di INDONESIA

RESENSI BUKU

A.  IDENTITAS BUKU

Nama                    : KERAJAAN-KERAJAAN di INDONESIA
Pengarang            : Sulistiani
Penerbit                : PT. Widya Duta Grafika
Edisi / Cetakan     : Cetakan 1 tahun 2010
Jumlah Halaman  : 64 Halaman
Harga                   : RP.24.000
                                                                 




B.  SINOPSIS BUKU
Sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk pada 17 Agustus 1945, terlebih dahulu berdiri kerajaan – kerajaan di berbagai daerah di Nusantara. Kerajaan- kerajaan tersebut dapat dibedakan menjadi kerajaan yang bercorak agama Hindu, kerajaan yang bercorak agama Buddha, serta kerajaan yang bercorak agama Islam. Kehidupan kerajaan pada masa itu masih terpecah- pecah, bahkan saling bermusuhan. Kerajaan terbesar yang pernah menguasai wilayah Nusantara, antara lain, Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Kedua kerajaan itu berperan besar dalam pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Meskipun kerajaan – kerajaan di Indonesia sudah tidak ada lagi, namun keberadaannya telah mewariskan kebudayaan dan peninggalan sejarah yang tidak ternilai harganya dan peninggalan sejarah yang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk melestarikan peninggalan budaya dan sejarah bangsa di masa lalu.




C.  KELEBIHAN BUKU
Kelebihan buku ini adalah memberikan wawasan tentang kerajaan- kerajaan yang berada di Indonesia baik Hindu, Buddha, dan Islam. Buku ini juga mudah untuk dipahami. Buku ini sangat cocok untuk para pemula yang ingin mengetahui kerajaan kerajaan di Indonesia.


D.  KEKURANGAN BUKU
Kekurangan dari buku ini adalah terdapat beberapa kerajaan yang memiliki penjelasan kurang lengkap.


Lihat dan baca juga Resensi bertemakan Sejarah disini