Cari Disini

Senin, 12 Februari 2018

Makalah Hubungan Internasional



TUGAS SEJARAH 
HUBUNGAN INTERNASIONAL





NAMA : YUPRAHIDIN
NIM     :    3101411119



FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2012


Judul Buku :   “HUBUNGAN INTERNASIONAL DALAM PERSPEKTIF
                      SEJARAH”
Penulis         :  Drs. Subagyo,M.Pd.
Cetakan         :  Februari 2010
Penerbit         :  Fakultas Ilmu Sosial (UNNES), Widya Karya Semarang
Tebal :  viii+279 halaman ukuran 20,5 x 14,5


















BAB I
KONSEP DASAR DAN RUANG LINGKUP

A. Konsep Hubungan Internasional 
Interaksi suatu bangsa dengan bangsa lain dapat berlangsung secara baik maupun secara kekerasan (perang) dan dalam mengajarkan disiplin “hubungan internasional” kepada mahasiswa atau murid tidak boleh ditekankan pada persahabatan dan pengertian antar bangsa saja tetapi juga pada segi politik kekuatan dengan segala akibatnya, misalnya perang. Perang tidak akan terjadi selama kekuatan berimbang, maka perdamaian dapat terjaga. 
B. Ruang Lingkup Hubungan Internasional
Hubungan  antarbangsa atau hubungan internasional dapat berwujud dalam berbagai bentuk yaitu : 
Hubungan Individu → mereka yang mempunyai kepentingan yang tersebar di dunia ini, mengadakan kontak-kontak pribadi sehingga timbul lepentingan timbal balik diantara mereka. [mahasiswa, turis, pedagang
Hubungan antar Kelompok → misalnya lembaga-lembaga sosial, keagamaan dan perdagangan.
Hubungan antar Negara → yang menjadikan sebagai salah satu unsur negara terikat karena adanya rasa solidaritas dan didasarkn kepada bahasa yang sama, keturunan yang sama (suku bangsa),disamping itu karena kesamaan latar belakang sejarah, tradisi kebudayaan dan tanah air.

C. Asas Dan Latar Belakang Sejarah Hubungan Internasional
1. Asas Hubungan Internasional
City State (kota yang merdeka) di Italia pada abad XII dapat dikatakan sebagai permulaan dan dasar-dasar praktek hubungan dan hukum modern. Terdapat tiga asas, yang satu sama lain pengaruh mempengaruhi yaitu; Asas Teritorial, Asas Kebangsaan, dan Asas Kepentingan Umum. 
Latar Belakang Sejarah
Zaman Kuno ;
Abad ke-14 SM di daerah Timur Tengah Imperium Mesir, dan Kerajaan di Asia telah terjalin hubungan Internasional yang bersifat perdagangan dan komersil. Bangsa Yahudi membina hubungan dengan bangsa-bangsa lain yang bukan musuh bebuyutanya
Bangsa Yahudi Percaya bahwa di hari kemudian bangsa-bangsa di dunia harus bersatu dalam suasana damai, namun mereka tidak pernah menuju realisasi dari idealisme tersebut.
Bangsa Yunani merupakan pelopor dalam menyusun hubungan antar kelompok yang didasarkan pada ketentuan adat istiadat, kebiasaan dan kaidah yang disetujui bersama. Hubungan antarbangsa dalam naungan bangsa Romawi terdapat pola yang tersusun  menjadi beberapa bagian.
Abad Pertengahan ;
Pada abad ke-4 sampai abad ke-8 adalah periode anarki dimana tiap golongan hanya mementingkan kepentingan kelompoknya. Sejak abad ke-16 terdapat kontak-kontak rapat dengan adanya perjanjian-perjanjian yang disebut Capitulations. Misalnya, Sulaiman yang cakap (Sultan Turki 1520 1566) pernah mengadakan kapitulasi dengan raja Francois I dari Prancis pada tahun 1535 mengenai hubungan perdagangan antara Prancis dan Turki. Abad ke-15 bangsa Protugis, Spanyol kemudian di ikuti Belanda,Inggris, Prancis, dan bangsa-bangsa Eropa Barat lainya menjalin hubungan internasional yang mencakup seluruh permukaan bumi.
Periode antarnegara modern 
Pembentukan negara-negara besar
Gagasan mengenai asas keaulatan
Pelopor hubungan Internasional
Prancis abad ke-20 (super state-state)
Periode ini merupakan periode revolusioner dalam hubungan antarbangsa. Dua Konperensi perdamaian di Den Hang  (Belanda) pada tahun 1899 dan 1907 merupakan tonggak konsepsi-konsepsipergaulan dunia yang baru, sampai terjadinya Perang Dunia I.

BAB II
NEGARA, BANGSA, DAN NEGARA BANGSA

A. Evolusi Negara-Bangsa Sampai Tahun 1870
Pada akhir abad ke-18 pandangan merkantilisme tidak populer lagi karena digantikan dengan sistem perdagangan internasional. Sistem kenegaraan menjadi sesuatu yang dipermasalahkan, dan daerah koloni menjadi kurang penting, terlebih setelah pecahnya revolusi Prancis dan oleh “Revolution of spring” Napoleon. Jawaban atas permasalahan ini adalah perjanjian Westphalia dimana kekuasaan ada di tangan raja. Ucapan raja adalah hukum. Ungkapan ini tercemin pada raja Louis XIV “I’etat, c’est moi”.

B. Evolusi Negara Bangsa Modern 
1684 Perjanjian Westphalia membentuk sistem negara modern
Abad 16,17,dan 18 Negara-negara Eropa mengembangkan kekuasaan kolonial,
khususnya di Amerika Utara ; ini merupakan perputaran pertama
1775-1780 Revolusi Amerika dan Prancis merupakan tantangan bagi kekuasaan
Raja
1804-1815 Kekuasaan Napoleon di Prancis merubah sistem kekuasaan di Eropa
1815-1870 Negara Amerika membagi Afrika dan sebagian Timur Tengah dan
Asia dalam putaran kekuasaan kedua. Amerika dan Jepang juga
mulai menanamkan kekuasaan kolonial di daerah sebrang lautan.
1914-1918 Perang Dunia I merubah sistem negara didunia
1870-1930 Sejumlah negara di Eropa tumbuh dari 15 menjadi 35
1918-1939 Munculnya kekuatan Bolshewiks di Rusia dan Nazi di Jerman, yang
merupakan tantangan terhadap legitimasi sistem kenegaraan.
1939-1945 Perang Dunia II
1945-kini Perkembangan kehidupan kenegaraan menggantikan sistem kolonial
modern. Negara-negara bertambah dari 45pada 1945 menjadi sekitar 170 pada tahun 1986. Perkembangan politik pada masa ini juga ditandai dengan masalah antara kekuatan besar, yang sulit untuk menyatakan bahwa dunia dalam keadaan damai yang mutlak

B. Negara Bangsa dan Perimbangan Kekuatan ( Balance of Power )
Perimbangan kekuatan dilakukan dalam hubungan antarnegara. Dalam sebuah kasus perimbangan kekuatan diartikan sebagai adanya ketidak seimbangan. Perhatikan gambar-gambar dan istilah yang digunakan dibawah ini, menurut Daniel Tapp,1988 :









BAB III
ILMU DAN SISTEM HUBUNGAN INTERNASIONAL

A. Ilmu Hubungan Internasional
Memasuki abad XX, dengan diawali perang yang melanda seluruh dunia, muncul dan berkembag secara meluas hubungan internasional sebagai “disiplin ilmu”.
A.1. Lahirnya ilmu hubungan internasional
Pecahnya perang dunia yang kedua dan lahirnya perserikatan bangsa-bangsaserta badan-badan khusus lainnya mendorong lahir dan berkembang ilmu ini dan menuntut terselenggaranya negara dunia  (world government).
A.2.  Ilmu-ilmu dasar hubungan internasioal 
Dalam ilmu-ilmu dasar hubungan internasional sekurang-kurangnya delapan disiplin yang mendasari hubungan internasional yaitu ; hukum internasional, sejarah diplomatik, ilmu perang, politik internasional, organisasi internasional, perdagangan internasional serta pemerintahan jajahan .
A.3. Ilmu-ilmu yang menunjang
Lebih singkatnya ilmu hubungsn internasional bertujuan membentuk warganegara yang baik, pemimpin yang berkualitas ketrampulan yang tinggi dan pengetahuan yang mendalam tentang kemaanusiaan yang merupakan modal dasar untuk pengembangan individu,bangsa dan dunia.
A.4. Pendidikan internasional
Pendidikan internasional merupakan suatu ilmu yang mengembangkan sikap, pengetahuan, saling pengertian serta ketrampilanuntuk dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia dan menerima masyarakat dunia kedalam pola hidup manusia yang beradap. 

B. Sistem Kegiatan Hubungan Internasional
Pada zaman Yunani, terdapat hubungan antar polis dan pada zaman pertengahan terdapat hubungan antar Paus dan para raja.
B.1. Hubungan kegitan diplomatik
Pada zaman modern, sejak perang dunia pertama terdapat kencendrungan melakukan proses diplomasi terbuka. Mengenai hal ini diccantumkan di dalam ketentuan liga bangsa-bangsa pasal 18 yang mendasarkan bahwa smua perjanjian dan persetujuan internasional dari anggota liga segera didaftar untuk dipublikasikan agar mempunyai kekuatan yang mengikat. Perubahan strategi sistem dalam hubungan  internasional membawa dampak baru terhadap kegiatan diplomasi. 
B.2. Hukum internasional
Hukum internasional merupakan ketentuan atau hukum yang berlaku untuk bangsa-bangsa. Schwarcenberger mengemukakan tiga prinsip utama yang dibutuhkan di dalam proses pembentukan hukum internasional sbb :
Harus merupakan prinsip umum dari hukumserta lebih luas dari peraturan undang-undang yang ruang lingkup dan fungsinya terbatas.
Diterima dan diakui oleh bangsa-bangsa beradab
Disusun oleh tokoh-tokoh beradab dan dapat dibuktikan sekurang-kurangnya sebagai prinsip hukum yang mendasar bagi dunia.
B.3. Ekonomi internasional
Perkembangan ekonomi suatu bangsa merupakan bagian dari perkembangan ekonomi dunia. Bila suatu masalah mempengaruhi dunia internasional, maka pemecahanya harus dilakukan secara bersama dan menyeluruh. Organisasi-organisasi internasional banyak yang dibentuk untuk menanganinya.

C. Perkembangan ilmu hubungan internasional 

C.1. Ruang lingkup hubungan internasional
Sejauh ini baru diuraikan ruang lingkup hubungan antar manusia sebagai makhluk internasional. Krisis perdamaian dengan demikian dapat diamati juga dalam bidang ekonomi,ilmu dan teknologi, informatik dan kebudayaan, serta hubungan sosial antarnegara. 
C.2. Koneksitas : hubungan internasional, politik internasional dan politik luar negeri.

BAB IV
SASARAN DAN SISTEM INTERNASIONAL

A. Sasaran hubungan inteernasional : Perdamaian Dunia
Seorang jendral Cina dari zaman dinasti Han yang dikenal dengan nama Chao-Chao (155-220),namun nama resminya Wu Wei Ti dengan dalilnya “Barang siapa Cuma mengandalkan perang sebagai sarana, ia akan musnah, dan barang siapa Cuma mengadalkan cara damai sebagai sarana, ia akan binasa”.
A.1. Berbagai aliran pemikiran mengenai masalah perdamaian dunia :
Aliran Idealisme 
Aliran Realisme
Neo- Realisme dari Edward Hallett Carr
A.2. Palemologi (studi perdamaiaan)
Palemologi adalah disiplin ilmu yang sangat muda dan berkembang pada sekitar peralihan1950-an ke dekade 1960-an, merupakan reaksi dari perlombaan senjata. Persoalan perdamaiaan hanya dapat dijelaskan, bilamana manusia sudah lebih dulu dapat menjelaskan logika dari ideologi.
A.3. Perdamaian dan Ideologi 
Sebabnya mengapa ideologiharus diletakkan disamping kepentingan nasional sebagai faktor yang utama menentukan sistem internasional yang berlaku semenjak berakhirnya Perang Dunia II
Sistem Internasional 
Kerangka analisis sistem internasional
Sistem negara setalah abad ke-17
Sistem internasional pasca perang dinia II

BAB V
Masyarakat Internasional

A. Pendekatan Dasar Masyarakat Internasionalnal, 
Ditekankan bahwa, menurut pendekatan Masyarakat Internasional, masalah intervensi dan hak asasi manusia dapat dipelajari secara normatif, yaitu secara filosofis, historis dan hukum. Masalah ini tidak dapat dipelajari secara ilmiah karena pada dasarnya merupakan persoalan manusia dan karenanya mengandung nilai.

B. Tiga Tradisi : Teori
Realisme adalah doktrin yang disitu persaingan dan konflik antar negara “melekat” didalam hubungan mereka.
Rasionalis adalah mereka para teoritisi yang yakin bahwa manusia selalu memakai akal pikiran, dapat mengenali hal benar yang untuk dilakukan, dan dapat belajar dari kesalahan yang dilakukanya dan dari yang lainya (Wight, 1991:14-24).
Revolusionis adalah mereka para teoritisi yang menunjukan dirinya dengan rasa kemanusiaan dan yakin pada “persatuan moral” dari masyarakat dunia diluar negara (Wight, 1991:8-12).
C. Tiga Tradisi : Praktek

Tanggung jawab nasional 
Negarawan dan tangung jawab
Tanggung jawab kemanusian
Kritik Terhadap masyarakat internasional
BAB VI
EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL


A. APA EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL ITU?
1. MERKANTILISME
Merkantilisme adalah pandangan dunia tentang elit-elit politik yang berada pada garis depan pembangunan negara modern.
2. LIBERALISME EKONOMI
Liberalisme ekonomi muncul sebagai kritik terhadap kontrol politik dan pengaturan permasalahan ekonomi yang menyeluruh yang mendominasi pembentukan negara Eropa di abad keenambelas dan ketujuhbelas,yakni merkantilisme. Kaum ekonomi leberal berpendapat bahwa perekonomian pasar merupakan suatu wilayah otonom dari masyarakat yang berjalan menurut hukum ekonominya sendiri.
3. MARXISME
Dapat diringkas pendekataan kaum Marxis sebagai berikut, Perekonomian adalah tempat eksploitasi dan perbedaan antar kelas sosial, khususnya kaum borjuis dan kaum proletar.
4. PERDEBATAN TENTANG STABILITAS HEGEMONI AS
Hegemoni AS selalu sedikit lebih bijaksana daripada teori yang hendak kita yakini. Ketika Perang Dingin mulai, AS memiliki kepentingan keamanan yang jelas dalam mengikat Eropa Barat dan Jepang lebih dekat ke dalam kelompok liberal

5. PEMBANGUNAN DAN KETERBELAKANGAN DI DUNIA KETIGA
Teori ketergantungan memiliki tujuan ketika mereka menekankan bagaimana hubungan ketergantungan membentuk dan mempengaruhi pembangunan di Dunia Ketiga.
6. GLOBALISASI EKONOMI DAN PERANAN NEGARA YANG BERUBAH
Perdebatan tentang globalisasi ekonomi tidaklah mudah diselesaikan sebab masing-masing tiga posisi teoretis yang diuraikan diatas dapat menunjukan beberapa bukti empiric yang mendukung pandangannya. Pandangan kaum liberal,dan kaum neo-Marxis sama-sama ada benarnya juga.

BAB VII
KEKUATAN NASIONAL DAN POLA HUBUNGAN INTERNASIONAL
A. Unsur-Unsur Kekuatan Nasional :
1. Rakyat dan sumber daya manusia
2. Pemerintah
3. Wilayah dan sumber daya alam

B. Pola sikap Hubungan Internasional
1. Politik tidak memihak
2. Politik isolasi
3. Netralitas dan netralisme
4. Kooperasi
5. Kerjasama Universal 
6. Kerjasama Regional
7. Kerjasama Fungsional
8. Kerjasama Ideologis
9. Konfrontasi
BAB VIII
DIPLOMASI
A. Perkembangan di India Kuno
B. Perkembangan di Yunani
C. Perkembangan Romawi Kuno
D. Perkembangan di Zaman Byzantium
E. Perkembangan Sesudah Renaissance :
1. Periode Italia
2. Sistem diplomasi Perancis
3. Transisi Diplomasi Lama ke Baru

BAB IX
ORGANISASI ANTAR BANGSA
A. Landasan Umum 
Proses pertumbuhan organisasi internasional 
Penggolongan, Klasifikasi Organisasi Internasional 
1. Keanggotaan 
2. Klasifikasi berdasarkan Lingkup kawasan geografi
3. Klasifikasi atas landasan Fungsi
Status Organisasi Internasional
B. Perserikatan Bangsa-Bangssa (PBB)
1. Langkah-langkah
2. Struktur Organisasi PBB
3. Tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa
4. Keanggotaan PBB
5. Badan kelengkapan PBB
6. Dewan Keamanan 
Dewan Ekonomi Sosial 
Badan-Badan Tambahan 
Dewan perwalian 
Mahkamah internasional
Sekretariat PBB
C. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Indonesia
1. Sengketa Indonesia Belanda (UNCI)
2. PBB dalam masalah Irian Barat (UNTEA)
3. PBB dan masalah Timor Timur





BAB X
PERAN INDONESIA DI DUNIA INTERNASIONAL

A. Bidang Politik dan keamanan 
Usaha nyata pemerintah Indonesia dalam penyelesaiaan permasalahan politik global sebagai berikut :
1. Indonesia menjadi anggota tidak tetap Dewan keamanan PBB
2. Pengiriman Kontingen Garuda (kontingen I-XXII/A)
3. Peran Indonesia dalam menyelesaikan konflik internasional ;
a. Konflik Timur Tengah
b. Krisis di Myanmar
c. Peran Indonesia dalam Penanggulangan Terorisme
B. Bidang ekonomi
hubungan ekonomi antarnegara memegang peran penting muncul adanya Perdagangan bebas 
a. perdagangan bebas tingkat global
b. perdagangan bebas tingakat regional
serta berdirinya APEC (asian Pacific Economic Cooperation) yang berdiri pada bulan november 1989. Peran indonesia salah satunya ialah  Negara Indonesia adalah salah satu negara pendiri WTO  dan APEC
C. Bidang kebudayaan
Bangunan-bangunan bersejarah yang ada di indonesia pada era global tidak hanya menjadi kebanggaan bangsa indonesia tetapi juga dunia, akibatnya masyarakat turut membantu usaha-usaha pelestarian. Kesenian daerah dapat mejadi identitas bangsa pada era global, maka dari itu tentang hak cipta asal usul kesenian harus tetap dijaga agar tidak diklaim oleh negara lain terutama Malaysia.
D. Bidang lingkungan hidup
Bentuk peran aktif Indonesia dalam bidang lingkungan hidup yaitu dengan menjadi tuan rumah konferensi perubahan iklim yang dilaksanakan PBB. 
Dampak Keaktifan dalam pergaulan antar bangsa 
a. Dampak positih
1. Masyarakat makin maju
2. Kebudayaan indonesia makin maju
3. Meningkatnya kepercayaan dunia internasional
4. Etos kerja masyarakat indonesia meningkat dll.
b. Dampak negatif
1. Berlangsunganya neokolonialisme 
2. Lapangan kerja semakin sempit
3. Berkembangnya pola hidup konsumtif (wismulyani,2008)
4. Terkikisnya nilai-nilai kebersamaan,dll.











Pembanding :

Judul Buku :   “HUBUNGAN INTERNASIONAL DAN PERANAN BANGSA
                              INDONESIA SUATU PENDEKATAN SEJARAH”
Penulis        :  Frans S. Fernandes
Cetakan        :  Januari- Mei 1988
Tebal        :  ix+211 halaman
















HUBUNGAN INTERNASIONAL DAN PERANAN BANGSA
INDONESIA SUATU PENDEKATAN SEJARAH

Hubungan Internasional merupakan kegiatan interaksi manusia bangsayang satu dengan manusia dari bangsa lainnya, baik secara mandiri, maupun secara kelompok. Hal ini dapat dilakukan dengan kontak tatap muka, malah lebih melalui komunikasi tak langsung. Hubungan antarbangsa dapat terjadi atas prakarsa individu , organisasi-organisasi non pemerintah ataupun melalui kegiatan atau organisasi yang secara resmi diatur oleh pemerintah atau negara.
Pelaksanaan hubungan antarbangsa dalam pengertian modern, berawal dengan timbulnya negara-negara modern yang dilandasi nasionalisme pada abad XVIII. Bangsa merupakn kelompok manusia yang berdiam pada kawasaan geografis tertentudibawah suatu pemerintahan yang berdaulat. Di dalam bangsa tercakup element-elemen utama seperti : 
a. Persatuan kesatuan
b. Kepentingan dan cita-cita serta
c. Tradisi budaya yang mengikat masa lampau dan masa datang
Aspirasi yang didasari kesatuan kemerdekaan, kebebasan dan kepribadiaan serta keamanan. Hal ini bukanlah berarti bahwa sebelum terbentuknya bangsa negara modern,belum terjadi kontak atau hubungan antarnegara.
Kemajuan ilmu dan teknologi perkembangan sarana-prasarana komunikasi, transportasi sangat besar pengaruhnya dalam menjembatani hubungan saling ketergantungan antar bangsa dalam dunia modern. Kompleksitas masyarakat modern mendorong bangsa-bangsa didunia untuk membentuk berbagai lembaga, organisasi, ketentuan hukum dan sebagainya yang merupakan bentuk-bentuk kerja sama dalam rangka menunjang kegiatan hubungan antar bangsa.
Liga bangsa-bangsa yang dibentuk setelah pearang dunia pertama dan Perserikatan Bngsa-Bangsa yang lahir setelah perang dunia kedua, merupakan sumber inspirasi pembentukan organisasi-organisasi dunia selanjutnya yng mencakup beberbagai aspek kehidupan. Selain organisasi, pahit getirnya perang mendorong para ahli, filsuf,negarawan untuk mengambil langkah baru dalam rangka menanamkan rasa slaing pengertian antarbangsa di dunia. Kebutuhan ini, dalam proses perkembangan selanjutnya melahiekan hubungan Internasional dan pendidikan internasional, yang didasari dan ditunjang oleh disiplin-disiplin ilmu lainya.
Indonesia sebagai sebuah negara,memilii cita-cita dan kepentingannya sendiri, yang dalam usaha mencapainya menggunakan strategi serta landasan sendiri. Wawasan nusantara merupakan landasan strategi nasional. Hubungan luar negeri yang telah dimainkan bangsa indonesia telah tercatat dalam instrkripsi-instrkripsi historis. Sejak proklamasi, hubungan internasional ditandaskan di dalam undang-undang dasar 1945 alenia ke empat. Penjabaran serta pelaksanaan hubungan luar negeri berpegang pada prinsip “bebas aktin”. Memasuki pemerintah orde baru, partisipasi indonesia dalam hubungan internasional semakin besar , terutama dalam bentuk organisasi kerja.sama regional yang diprakarsai indonesia.Organisasi ini semakin luas dan semakin berkembangcsesuai dengan perkembangan konstalasi politik dunia.

Minggu, 11 Februari 2018

Contoh Surat Peminjaman Barang

PANITIA HAKRAB UKM BAKSOS UNNES 2012
UNIT KEGIATAN MAHASISWA BAKTI SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
Sekretariat: Gedung UKM Lantai 2 Universitas Negeri Semarang 



No : 005/UKM Baksos/XII/2012
Hal : Peminjaman Alat


Kepada
Yth. Ketua UKM Teather SS
Di tempat


Dengan hormat,
Sehubungan dengan akan diselenggarakannya Hakrab UKM Baksos 2012 dan Bakti Sosial Peduli Panti Asuhan yang akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal : Minggu, 09 November 2012
Waktu : Pukul 07.00 WIB - selesai
Acara : Hakrab (Hari Keakraban) UKM Baksos 2012 dan Bakti Sosial Peduli Panti Asuhan

Maka kami panitia Hakrab bermaksud untuk meminjam Mega phone sebagai sarana kegiatan tersebut.

Demikian surat peminjaman ini kami sampaikan, atas perhatian dan partisipasinya kami mengucapkan terima kasih.



Hormat kami,
Semarang, 04 Desember 2012
Ketua panitia                                                           Sekretaris



Syam Adi Ariska                                                        Sari Prasetyaati
NIM. 5301411051                                                        NIM. 1301411010

Makalah Konsep Dasar Bimbingan Belajar

1. Konsep Dasar Bimbingan Belajar
a. Pengertian Bimbingan Belajar
Menurut A J Jones, bimbingan belajar merupakan suatu proses pemberian bantuan seseorang pada orang lain dalam menentukan pilihan dan pemecahan masalah dalam kehidupannya.
Menurut L D Crow dan A Crow, bimbingan belajar merupakan suatu bantuan yang dapat diberikan oleh seseorang yang telah terdidik pada orang lain yang mana usianya tidak ditentukan untuk dapat menjalani kegiatan dalam hidupnya.
Jadi, bimbingan belajar adalah suatu bentuk kegiatan dalam proses belajar yang dilakukan oleh seseorang yang telah memiliki kemampuan lebih dalam banyak hal untuk diberikan kepada orang lain yang mana bertujuan agar orang lain dapat menemukan pengetahuan baru yang belum dimilikinya serta dapat diterapkan dalam kehidupannya.
b. Latar Belakang Bimbingan Belajar
Suatu kegiatan yang dilaksanakan sudah pasti memiliki latar belakang. Demikian pula halnya dengan layanan bimbingan belajar. Kegiatan bimbingan belajar dilaksanakan karena dilatar belakangi oleh beberapa hal, sebagai berikut:
a) Adanya criterion referenced evaluation yang mana mengklasifikasikan siswa berdasarkan keberhasilan mereka dalam menguasai pelajaran. Dan kualifikasi itu, antara lain :
Siswa yang benar-benar dapat meguasai pelajaran.
Siswa yang cukup menguasai pelajaran.
Siswa yang belum dapat menguasai pelajaran.
b) Adanya kemampuan/tingkat kecerdasan dan bakat yang dimiliki oleh tiap siswa yang mana berbeda dengan siswa yang lainnya. Dimana klasifikasi siswa tersebut antara lain :
Siswa yang prestasinya lebih tinggi dari apa yang diperkirakan berdasarkan hasil tes kemampuan belajarnya.
Siswa yang prestasiya memang sesuai dengan apa yang diperkirakan berdasarkan tes kemampuan belajarnya.
Siswa yang prestasinya ternyata lebih rendah dai apa yang diperkirakan berdasarkan hasil tes kemampuan belajarnya.
c) Adanya penerapan waktu untuk menyelesaikan suatu program belajar. Dan klasifikasi siswa dalam hal ini antara lain :
Siswa yang ternyata dapat menyelesaikan pelajaran lebih cepat dari waktu yang disesuaikan.
Siswa yang dapat menyelesaikan pelajaran sesuai waktu yang telah disesuaikan.
Siswa yang ternyata tidak dapat menyelesaikan pelajaran sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
d) Adanya penggunaan norm referenced yang mana membandingkan prestasi siswa yang satu dengan yang lainnya. Dan klasifikasi siswa berdasarkan perstasinya itu antara lain :
Siswa yang prestasi belajarnya selalu berada di atas nilai rata-rata prestasi kelompoknya.
Siswa yang prestasi belajarnya selalu berada di sekitar nilai rata-rata dari kelompoknya.
Siswa yang prestasinya selalu berada di bawah nilai rata-rata prestasi kelompoknya.
Setelah mengetahui begitu banyak permasalahan yang dihadapi oleh setiap siswa dalam kegiatan belajarnya, maka diperlukanlah suatu bentuk layanan bimbingan belajar. Hal ini dimaksudkan agar para siswa yang memiliki permasalahan dalam belajarnya dapat segera memperoleh bantuan atau bimbingan dalam kegiatan belajar yang diperlukannya. Jadi, layanan bimbingan belajar sangat diperlukan oleh semua orang yang sedang melakukan proses atau kegiatan belajar.
c. Jenis Layanan Bimbingan Belajar dalam Kaitannya dengan PBM
Seorang guru dalam memberikan layanan bimbingan belajar harus tetap berporos pada terselenggaranya Proses Belajar Mengajar. Oleh karena itu, diperlukanlah suatu jenis layanan bimbingan belajar yang berkaitan dengan Proses Belajar Mengajar. Maka jenis layanan bimbingan belajar dalam konteks Proses Belajar Mengajar yang dapat dan seyogianya dijalankan oleh para guru, antara lain :
Mengumpulkan informasi mengenai diri siswa
Memberikan informasi mengenai berbagai kemungkinan jenis program dan kegiatan yang sesuai dengan karakteristik siswa.
Menempatkan siswa dengan kelompok belajar yang sesuai
Memberikan program belajar yang sesuai
Mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar
Membuat rekomendasi tentang kemungkinan usaha selanjutnya
Melakukan remedial teaching

5. Jadi ketermpilan belajar merupakan suatu kemampuan  atau kecakapan individu dalam proses belajar termasuk penerapan strategi dan metode belajar yang efektif dan efisien untuk mencapai prestasi yang optimal.
Macam-macam keterampilan belajar
a. Keterampilan belajar abstrak adalah keterampilan yang menggunakan cara-cara berfikir abstrak. Tujuanya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Contoh belajar matematika,belajar kimia,belajar tauhid.
b. Keterampilan belajar sosial adalah memahami masalah-masalah sosial dan cara memecahkanya. Contohnya belajar mengatasi masalah keluarga,kelompok dan masyarakat.
c. Keterampilan belajar rasional adalah keterampilan belajar yang menggunakan cara berfikir logis dan sistematis untuk memperoleh aneka ragam kecakapan dengan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep.
d. Keterampilan belajar pemecahan masalah adalah keterampilan belajar mengunakan metode-metode ilmiah atau befikir secara sistematis,logis, teratur dan teliti. Tujuanya untuk mencapai kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara lugas rasional dan tuntas.
e. Keterampilan belajar apresiasi  adalah keterampilan yang mempertimbangkan  arti penting atau nilai suatu objek. Jenis keterampilan belajar ini lebih menekankan kecakapan ranah rasa atau afektif skills. Contoh kesenian,kerajinan tangan ,bahasa.
f. Keterampilan belajart pengetahuan adalah keterampilan yang dilakukan dengan cara melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu.
g. Keterampilan belajar Motorik adalah keterampilan yang di gunakan dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik. Contoh menari,melukis beramian musik elektronik.

Ada tiga faktor penting dalam penguasaan keterampilan untuk belajar :
Pola pikir dan sikap (mindset and attitude) kita terhadap  belajar harus ada.
Kemampuan kita untuk mendayagunakan kekuatan pikiran kita untuk mempercepat proses belajar (accelerated learning),contohnya denga pikiran bawah sadar kita
Disiplin diri dan kegigihan (self discipline and persistence).

6. Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif
Salah satu faktor penting yang dapat memaksimalkan kesempatan pembelajaran bagi anak adalah penciptaan lingkungan pembelajaran yang kondusif. Lingkungan pembelajaran dalam hal ini, adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Sedangkan kondusif berarti kondisi yang benar-benar sesuai dan mendukung keberlangsungan proses pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya, sehingga pada diri anak terjadi proses pengolahan informasi menjadi pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai hasil dari proses belajar.
Lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikian rupa, sehingga dapat memfasilitasi anak dalam melaksanakan kegiatan belajar. Lingkungan belajar dapat merefleksikan ekspektasi yang tinggi bagi kesuksesan seluruh anak secara individual. Dengan demikian, lingkungan belajar merupakan situasi yang direkayasa oleh guru agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Menurut Saroni (2006) dalam Kusmoro (2008), lingkungan pembelajaran terdiri atas dua hal utama, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial.
Lingkungan fisik dalam hal ini adalah lingkungan yang ada disekitar siswa belajar berupa sarana fisik baik yang ada dilingkup sekolah,  dalam hal ini dalam ruang kelas belajar di sekolah. Lingkungan fisik dapat berupa sarana dan prasarana kelas, pencahayaan, pengudaraan, pewarnaan, alat/media belajar, pajangan serta penataannya. Sedangkan lingkungan sosial merupakan pola interaksi yang terjadi dalam proses pembelajaran. Interaksi yang dimaksud adalah interkasi antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan sumber belajar, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, lingkungan sosial yang baik memungkinkan adanya interkasi yang proporsional antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
Menurut Mulyasa (2006), dalam upaya menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif bagi anak, guru harus dapat memberikan kemudahan belajar kepada siswa, menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai, menyampaikan materi pembelajaran, dan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar. Oleh karena itu, peran guru selayaknya membiasakan pengaturan peran dan tanggung jawab bagi setiap anak terhadap terciptanya lingkungan fisik kelas yang diharapkan dan suasana lingkungan sosial kelas yang menjadikan proses pembelajaran dapat berlangsung secara bermakna. Dengan terciptanya tanggung jawab bersama antara anak dan guru, maka akan tercipta situasi pembelajaran yang kondusif dan bersinergi bagi semua anak (Kusmoro, 2008).


7. Pengertian Diagnosis Kesulitan Belajar
Diagnosis merupakan istilah yang diadopsi dari bidang medis. Menurut Thorndik e dan Hagen (Abin S.M., 2002 : 307), diagnosis dapat diartikan sebagai :
a. Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, disease) apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejala-gejalanya (symtoms);
b. Studi yang seksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang esensial;
c. Keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang saksama atas gejala-gejala atau fakta-fakta tentang suatu hal. 
Dari ketiga pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa di dalam konsep diagnosis, secara implisit telah tercakup pula konsep prognosisnya. Dengan demikian dalam proses diagnosis bukan hanya sekadar mengidentifikasi jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.
Bila kegiatan diagnosis diarahkan pada masalah yang terjadi pada belajar, maka disebut sebagai diagnosis kesulitan belajar. Melalui diagnosis kesulitan belajar gejala-gejala yang menunjukkan adanya kesulitan dalam belajar diidentifikasi, dicari faktor-faktor yang menyebabkannya, dan diupayakan jalan keluar untuk memecahkan masalah tersebut. 

8. Kedudukan Diagnosis Kesulitan Masalah Belajar, dalam kegiatan Belajar dan Mengajar
Ketidakberhasilan dalam proses belajar mengajar dalam mencapai ketuntasan bahan tidak dapat dikembalikan kepada hanya satu factor yang terlibat dalam proses belajar mengajar. Faktor yang dapat kita persoalkan adalah siswa yang belajar, jenis kesulitan yang dihadapi siswa dan kegiatan yang terlibat dalam proses.
Yang penting dalam kegiatan proses diagnostik masalah dalam belajar adalah menemukan letak masalah dan jenis masalah yang dihadapi siswa agar pengajaran perbaikannya (learning corrective) yang dilakukan dapat dilaksanakan secara efektif. Kegiatan diagnosis terutama harus ditujukan :
1. Bakat siswa yang berbeda.
2. Ketekunan dan tingkat usaha yang dilakukan siswa.
3. Waktu yang tersedia untuk menguasai ruang lingkup tertentu sesuai dengan bakat yang bersifat individual dan usaha yang dilakukannya.
4. Kualitas pengajaran yang tersedia
5. Kemampuan siswa untuk memahami tugas-tugas belajar.
6. Tingkat dari jenis kesulitan yang diderita siswa sehingga dapat ditentukan perbaikannya.


9. Pengertian Kesulitan Belajar
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian kesulitan belajar. Blassic dan Jones, sebagaimana dikutip oleh Warkitri ddk. (1990 : 8.3), menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah terdapatnya suatu jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang diperoleh. Mereka selanjutnya menyatakan bahwa individu yang mengalami kesulitan belajar adalah individu yang normal inteligensinya, tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan penting dalam proses belajar, baik persepsi, ingatan, perhatian, ataupun fungsi motoriknya.
Sementara itu Siti Mardiyanti dkk. (1994 : 4 – 5) menganggap kesulitan belajar sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan tersebut mungkin disadari atau tidak disadari oleh yang bersangkutan, mungkin bersifat psikologis, sosiologis, ataupun fisiologis dalam proses belajarnya.

10. jenis-jenis kesulitan belajar
a. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
b. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
c. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
d. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
e. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.




11.  Faktor-faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Menurut Burton, sebagaimana dikutip oleh Abin S.M. (2002 : 325-326), faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar individu dapat berupa faktor internal, yaitu yang berasal dari dalam diri yang bersangkutan, dan faktor eksternal, adalah faktor yang berasal dari luar diri yang bersangkutan.
1. Faktor Internal
Yang dimaksud dengan faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri mahasiswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor kejiwaan dan faktor kejasmanian.
a. Faktor kejiwaan, antara lain : 
minat terhadap mata kuliah kurang;
motif belajar rendah;
rasa percaya diri kurang;
disiplin pribadi rendah;
sering meremehkan persoalan; 
sering mengalami konflik psikis;
integritas kepribadian lemah.
b. Faktor kejasmanian, antara lain :
keadaan fisik lemah (mudah terserang penyakit);
adanya penyakit yang sulit atau tidak dapat disembuhkan;
adanya gangguan pada fungsi indera;
kelelahan secara fisik.

2. Faktor Eksternal
Yang dimaksud dengan faktor eksternal adalah faktor yang berada atau berasal dari luar mahasiswa. Faktor ini dapat dibedakan menjadi dua : faktor instrumental dan faktor lingkungan.
a. Faktor instrumental
Faktor-faktor instrumental yang dapat menyebabkan kesulitan belajar mahasiswa antara lain :
Kemampuan profesional dan kepribadian dosen yang tidak memadai;
Kurikulum yang terlalu berat bagi mahasiswa;
Program belajar dan pembelajaran yang tidak tersusun dengan baik;
Fasilitas belajar dan pembelajaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan.

b. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan meliputi lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Penyebab kesulitan belajar yang berupa faktor lingkungan antara lain :
Disintegrasi atau disharmonisasi keluarga;
Lingkungan sosial kampus yang tidak kondusif;
Teman-teman bergaul yang tidak baik;
Lokasi kampus yang tidak atau kurang cocok untuk pendidikan.

12. langkah-langkah DKB dan penanganannya
Sebagai prosedur maka diagnosis kesulitan belajar terdiri dari langkah-langkah yang tersusun secara sistematis. Pendapat Roos dan Stanley tersebut dapat dioperasionalisasikan dalam memecahkan masalah atau kesulitan belajar mahasiswa dengan tahapan kegiatan sebagai berikut.
a. Mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar
Identifikasi mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar dilakukan dengan :

1. Menganalisis prestasi belajar
Dari segi prestasi belajar, individu dapat dinyatakan mengalami kesulitan bila : pertama, nilai yang bersangkutan lebih rendah dibanding nilai rata-rata klasnya; kedua, prestasi yang dicapai sekarang lebih rendah dari sebelumnya; dan ketiga, prestasi yang dicapai berada di bawah kemampuan sebenarnya.
2. Menganalisis periaku yang berhubungan dengan proses belajar.
Analisis perilaku terhadap siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar dilakukan dengan : pertama, membandingkan perilaku yang bersangkutan dengan perilaku siswa lainnya yang berasal dari tingkat atau kelas yang sama; kedua, membandingkan perilaku yang bersangkutan dengan perilaku yang diharapkan oleh lembaga pendidikan.
3. Menganalisis hubungan sosial
Intensitas interaksi sosial individu dengan kelompoknya dapat diketahui dengan sosiometri. Dengan sosiometri dapat diketahui individu-individu yang terisolasi dari kelompoknya. Gejala tersebut merupakan salah satu indikator kesulitan belajar.
b. Melokalisasi letak kesulitan belajar
Setelah siswa-siswa yang mengalami kesulitan belajar diidentifikasi, langkah berikutnya adalah menelaah :
pada mata pelajaran apa yang bersangkutan mengalami kesulitan;
pada aspek tujuan pembelajaran yang mana kesulitan terjadi;
pada bagian (ruang lingkup) materi yang mana kesulitan terjadi;
pada segi-segi proses pembelajaran yang mana kesulitan terjadi.

c. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kesulitan belajar
Pada tahap ini semua faktor yang diduga sebagai penyebab kesulitan belajar diusahakan untuk dapat diungkap. Tahap ini oleh para ahli dipandang sebagai tahap yang paling sulit, mengingat penyebab kesulitan belajar itu sangat kompleks, sehingga hal tidak dapat dipahami secara sempurna, meskipun oleh seorang ahli sekalipun (Koestoer dan A. Hadisuparto, 1998 : 21).
Teknik pengungkapan faktor penyebab kesulita belajar dapat dilakukan dengan : 1) observasi; 2) wawancara; 3) kuesioner; 4) skala sikap, 5) tes; dan 6) pemeriksaan secara medis.
d. Memperkirakan alternatif pertolongan
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan secara matang pada tahap ini adalah sebagai berikut.
Apakah siswa yang mengalami kesulitan belajar tersebut masih mungkin untuk ditolong ? 
Teknik apa yang tepat untuk pertolongan tersebut ?
Kapan dan di mana proses pemberian bantuan tersebut dilaksanakan ?
Siapa saja yang terlibat dalam proses pemberian bantuan tersebut ?
Berapa lama waktu yang diperlukan untuk kegiatan tersebut ?

e. Menetapkan kemungkinan teknik mengatasi kesulitan belajar
Tahap ini merupakan kegiatan penyusunan rencana yang meliputi : pertama, teknik-teknik yang dipilih untuk mengatasi kesulitan belajar dan kedua, teknik-teknik yang dipilih untuk mencegah agar kesulitan belajar tidak terjadi lagi. 
f. Pelaksanaan pemberian pertolongan
Tahap keenam ini merupakan tahap terakhir dari diagnosis kesulitan belajar mahasiswa. Pada tahap apa saja yang telah ditetapkan pada tahap kelima dilaksanakan. 

13. perlunya pengajaran remidial bagi siwa
Pengajaran remidial adalah suatu proses kegiatan pelaksanaan program belejar mengajar khusus yang bersifat individual, diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar, yang bersifatmengoreksi (menyembuhkan) siswa yang mengalami gangguan belajar sehingga dapat mengikuti proses belajar mengajar secara klasikal kembali untuk mencapai prestasi yang optimal
Pentingnya pengajaran remidial:
a. Siswa ternyata masih banyak yang mendapat nilai kurang. Selain itu ada perbedaan individual dalam proses belajarnya dan setiap individu memiliki latar belakang yang berbeda. Nmun dalam proses belajar mengajar dilakukan dengan kedekatan tak sama, melupakan perbedaan yang ada.
b. Guru, pada dasarnya guru bertanggung jawab atas keseluruhan proses pendidikan. Terhadap murid yang belum berhasil, guru bertanggung jawab membantu.
c. Proses remidial  diperlukan untuk melaksanakan proses belajar mengajar yang sebenarnya. Pada dasarnya suatu proses  belajar diartikan sebagai suatu proses pengubahan tingkah laku.
d. Pelayanan bimbingan. Melalui pelayanan BK setiap murid dapat memahami dirinya sendiri, memahami kelebihan dan kekurangannya serta dapat mengarahkan dirinya untuk mencapai perkembangan yang optimal.

Tujuan pengajaran remidial adalah agar siswa dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan melalui  proses penyembuhan atau perbaikan, baik segi proses balajar mengajar maupun kepribadian siswa.

14. pentingnya pengajaran pengayaan
Secara umum pengayaan dapat diartikan sebagai pengalaman atau kegiatan peserta didik yang melampaui persyaratan minimal yang ditentukan oleh kurikulum dan tidak  semua peserta didik dapat melakukannya.

Kamis, 08 Februari 2018

Makalah : Pengaruh Wabah Merokok Dikalangan Remaja Terhadap Prestasi Belajar Di Sekolah

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah S.W.T berkat rahmatnya saya di beri kesehatan dan kemudahan dalam menyelesaikan makalah ini. Tanpa rahmat Allah mungkin saya tidak dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui seberapa besar pengaruh wabah merokok terhadap prestasi belajar siswa di sekolah yang kini dirsa sudah sangat memprihatinkan. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah S.W.T akhirnya makalah ini dapat diselesaikan.

Makalah ini memuat tentang “Pengaruh Wabah Merokok Dikalangan Remaja Terhadap Prestasi Belajar Di Sekolah” dan sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.


BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Banyak di antara remaja yang merokok tanpa memperhatikan akibat-akibat dari kegiatan yang dilakukannya itu. Para remaja hanya mengedepankan keegoisan mereka,merasa bila mereka merokok itu di bilang keren oleh orang disekitarnya, merasa “kesetia kawanan”,kalau tidak merokok mereka merasa tidak enak pada teman lain yang merokok, dan atau mereka awalnya hanya mencoba-coba kebiasaan merokok orang lain tetapi ternyata ketagihan.
Para remaja tidak sadar bahwa banyak bahaya yang mengancam kesehatan mereka dan masa depan mereka,termasuk prestasi belajar mereka juga menurun secara perlahan tapi pasti.
Pada makalah ini metode penelitian didasarkan pada kenyataan yang terjadi dilapangan bercampur baur  dengan para remaja yang merokok. Sehingga masalah yang sedang terjadi ini menarik untuk di jadikan makalah.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah sebab para remaja merokok?
2. Apakah prestasi belajar itu?
3. Mengapa merokok dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar  di sekolah?
4. Bagaimana cara mengurangi dampak merokok terhadap prestasi belajar di sekolah?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui seberapa pengaruh rokok terhadap remaja.
2. Untuk mengetahui apa sebab para remaja merokok.
3. Untuk mengetahui seberapa pengaruh merokok terhadap prestasi belajar remaja.
4. Untuk mengetahui cara terbaik untuk mengurangi dampak merokok terhadap prestasi belajar remaja di sekolah.

BAB II
PEMBAHASAN
Setiap orang harus menjaga kesehatannya supaya memiliki jasmani dan rohani yang kuat dan sehat, sehingga dapat menjalani hidup dan kehidupannya. Untuk menjaga jasmani yang kuat dan sehat diperlukan rohani yang kuat dan sehat pula artinya rohani yang tidak mudah tergoda oleh berbagai godaan yang dapat menjerumuskan diri pada perbuatan yang merusak jasmani.Salah satu hal yang menjadi faktor rusaknya kesehatan jasmani dan rohani adalah merokok .
Faktor terbesar dari kebiasaan merokok dipengaruhi oleh faktor sosial atau lingkungan, dimana karakter seseorang banyak dibentuk oleh lingkungan sekitar, baik dari keluarga, tetangga, ataupun teman pergaulannya. Bersosialisasi merupakan cara utama pada anak-anak dan remaja untuk mencari jati diri mereka. Dengan melihat apa yang dilakukan orang lain dan kadang kala mencoba untuk meniru apa yang dilakukan orang lain. Hal itu merupakan suatu proses yang terjadi pada remaja untuk mencari jati diri dan belajar menjalani hidup bersosial. Namun sangat disayangkan, tidak hanya kebiasaan-kebiasaan yang baik saja yang ditiru melainkan juga kebiasaan-kebiasaan buruk, termasuk kebiasaan merokok.
Jika seseorang yang bukan perokok, hidup atau berkerja bersama dengan seorang perokok, secara otomatis salah satunya akan terpengaruh. Mungkin yang bukan perokok mulai mencoba merokok, mungkin juga sebaliknya yang perokok mengurangi konsumsi rokok. Baik disadari maupun tidak disadari, adaptasi tersebut dilakukan untuk berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan dan berusaha untuk diterima di lingkungan sosial-nya.
Berikut ini bahaya merokok secara umum :
1. Timbulnya penyakit kanker (kanker darah, kanker otak, kanker kulit)
2. Terjangkitnya penyakit jantung (kelainan jantung)
3. Timbulnya bercak-bercak di paru-paru (paru-paru berlubang)
4. Penyakit ginjal (karena tidak berfungsinya ginjal)
5. Wajah agak pucat , kaku agak kebiruan
6. Menimbulkan pusing dan sakit kepala
7. Mengganggu konsentrasi
8. Menyebabkan ketagihan
9. Bernapas pendek dan kurang stamina
10. nikotinnya akan memasuki otak dan berpengaruh pada saraf otak, serta menyebabkan jantung bekerja lebih cepat dengan meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.
Menurut Drs. H. Abu Ahmadi menjelaskan Pengertian Prestasi Belajar sebagai berikut: Secara teori bila sesuatu kegiatan dapat memuaskan suatu kebutuhan, maka ada kecenderungan besar untuk mengulanginya. Sumber penguat belajar dapat secara ekstrinsik (nilai, pengakuan, penghargaan) dan dapat secara ekstrinsik (kegairahan  untuk menyelidiki,  mengartikan situasi). Disamping itu siswa memerlukan/ dan harus menerima umpan balik secara langsung derajat sukses pelaksanaan tugas (nilai raport/nilai test) (Psikologi Belajar DRS.H Abu Ahmadi, Drs. Widodo Supriyono 151). Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian prestasi belajar ialah hasil usaha bekerja atau belajar yang menunjukan ukuran kecakapan yang dicapai dalam bentuk nilai. 
Tentulah para remaja menginginkan prestasi belajar yang tinggi tentunya agar cita-cita mereka dapat terwujud dan bisa membahagiakan orang tua. Para remaja menginginkan nilai setinggi-tingginya  nilai yang dapat mereka capai.
Namun dengan mereka merokok mungkin keinginan remaja itu dapat tidak terwujud. Itu bisa terjadi karena si remaja telah kecanduan atau mengalami ketergantungan merokok, disaat melakukan kegiatan belajar misal mengerjakan tugas sekolah atau kuliah, akan ada jeda waktu untuk berpikir karena mengalami kesulitan atau cukup waktu untuk menulis atau menjawab, buat perokok aktif terutama biasanya akan merokok disaat seperti itu, dari hal tersebut terjawab sudah bahwa disaat tidak merokok, perokok akan mengalami stress ringan atau agak berat.
Yang lainnya seperti dalam proses belajar mengajar disekolah atau dikampus, para remaja yang merokok mempunyai kecenderungan mempunyai daya konsentrasi yang rendah akibat banyak racun rokok yang masuk ke dalaam otak, akhirnyapun banyak pelajaran yang tidak masuk dalam proses penerimaan ilmu tersebut. Belum lagi apabila remaja itu mempunyai nafas yang pendek dan pusing juga karena efek negatif dari rokok, tentunya itu sangat berpengaruh bagi daya serap otak remaja terhadap pelajaran. Secara langsung efeknya adalah menurunnya prestasi belajar para remaja sekolah itu.
Para remaja pasti tidak menginginkan itu semua terjadi dalam hidupnya. Tentunya itu semua hanya dapat dicegah dengan cara menghilangkan kebiasaan merokok remaja itu sendiri. Walau awalnya mungkin itu terlihat susah tetapi ini harus dilakukan demi kebaikan remaja itu sendiri. Para remaja yang merokok, terlebih khususnya bagi yang sudah kecanduan dapat mengurangi sedikit demi sedikit kecanduannya itu. Salah satu caranya mungkin bila ada keinginan merokok muncul gantilah aktivitas merokok itu dengan permen atau makanan ringan lain untuk dikunyah atau mungkin juga para remaja dapat menghindari situasi atau lingkungan yang biasanya mengambil satu batang rokok. Tetapi apabila merokok hanya digunakan hanya sebagai untuk penenang saja,sebaiknya para remaja harus mencoba untuk mencari cara lain untuk mencapai efek yang sama. Aktif dalam kegiatan olahraga atau kegiatan di luar ruangan bisa mengurangi perasaan depresi

Bab III
PENUTUP
KESIMPULAN
Para remaja sebaiknya dapat membangkitkan kesadaran tentang bahaya merokok, kecanduan rokok, dampaknya terhadap prestasi belajar mereka di sekolah. Kebiasaan merokok sangat mengganngu bagi aktivitas otak mereka dalam proses belajar. Mulailah dari sekarang menghentikan aktivitas merokok, agar prestasi belajar semakin meningkat, masa depan cerahpun dapat dicapai dengan keadaan jasmani yang sehat tanpa adanya rokok.


DAFTAR PUSTAKA
1. http://jeniuspemalas.blogspot.com/2009/06/bahaya-merokok-untuk-pelajar.html
2. http://religiao.centralblogs.com.br/post.php href=bahaya+rokok+bagi+pelajar&KEYWORD=26525&POST=3933256
3. episentrum.com/search/hubungan%20antara%20merokok%20dengan%20prestasi%20belajar/

Makalah Persepsi

Pengertian Persepsi

Dilihat dari berbagai sumber, persepsi diartikan sebagai proses dengan mana kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi indra kita. Persepsi adalah proses mental yang terjadi pada diri manusia yang akan menunjukkan bagaimana kita mendengar, melihat, merasakan, dan meraba disekitar kita dengan indera.
Menurut William James, persepsi adalah pengalaman yang terbentuk berupa data-data yang di dapat melalui indera, dan merupakan hasil pengolahan otak dan ingatan. Sedangkan menurut penulis, persepsi adalah sebuah proses berpikir yang ditangkap oleh alat indera yang berasal dari lingkungan sebagai wujud hasil pengolahan otak dengan ingatan.
 Proses Terbentuknya Persepsi

Disini penulis akan membahas berbagai hal yang sangat erat kaitannya dengan bagimana persepsi itu terjadi, proses yang mempengaruhi persepsi dan atribusi (attribution).

1. Proses persepsi
Proses terjadi karena adanya stimulus yang merangsang untuk ditangkap oleh panca indra, merangsang dalam arti menarik, kemudian stimulus yang berupa objek tersebut dibawa ke otak dan terjadi adanya kesan atau jawaban (respon) sebagai hasil kerja indra berupa persepsi.
Proses persepsi ini memerlukan perhatian, yakni konsep yang diberikan pada proses yang menseleksi input-input tertentu untuk diikut sertakan dalam suatu pengalaman yang kita sadari dalam waktu tertentu.

Penulis dapat mengilustrasikan bagaiman persepsi bekerja dengan menjelaskan berbagai langkah yang terlibat dalam proses ini. Tahap-tahap ini tidaklah saling terpisah benar namun dalam kenyataan ketiganya bersifat kontinyu, bercampur baur dan bertumpah tindih satu dengan yang lain.
Tahap tersebut ialah:

a. Terjadinya Stimulasi Alat Indra (Sensory Stimulation)
Pada tahap pertama alat-alat indra distimulasi (dirangsang), misalnya mendengar suara musik, meskipun kita memiliki kemampuan pengindraan untuk merasakan stimulus, kita tidak selalu menggunakannya. Sebagai contoh, bila anda melamun di kelas, anda tidak mendengar apa yang dikatakan guru sampai dia memanggil nama anda, barulah anda sadar. Ini merupakan contoh yang jelas bahwa kita akan menangkap apa yang bermakna bagi kita dan tidak menangkap apa yang kelihatannya tidak bermakna bagi kita.

b. Stimulasi Terhadap Alat Indra Diatur.
Pada tahap kedua, rangsangan terhadap alat indra diatur menurut berbagai prinsip. Salah satunya adalah prinsip proksimitas (proximity), atau kemiripan yaitu orang atau pesan yang secara fisik mirip satu sama lain dipersepsikan bersama-sama, atau sebagai satu kesatuan (unit). Contohnya kita mempersepsikan orang yang sering kita lihat bersama-sama sebagai satu unit (sebagai satu pasangan).
Prinsip yang lain yaitu kelengkapan (closure), kita memandang atau mempersepsikan suatu gambar atau pesan yang dalam kenyataannya tidak lengkap sebagai gambar atau pesan yang lengkap. Contohnya, kita mempersepsikan potongan lingkaran sebagai lingkaran penuh meskipun sebagian dari gambar itu tidak ada. Kita akan melengkapi pesan yang kita dengar dengan bagian-bagian yang tampaknya logis untuk melengkap pesan itu. Kemiripan dan kelengkapan hanyalah dua diantara banyak prinsip pengaturan yang akan kita singgung.

c. Stimulasi Alat Indra Ditafsirkan-Dievaluasi.
Langkah ketiga dalam perceptual adalah penafsiran-evaluasi. Langkah ketiga ini merupakan proses subyektif yang melibatkan evaluasi di pihak penerima. Penafsiran-evaluasi kita tidak semata-mata didasarkan pada rangsangan luar, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, kebutuhan, keinginan, sistem nilai, keyakinan tentang seharusnya, keadaan fisik dan emosi pada saat itu, dan sebagainya yang ada pada kita.
Banyak peluang bagi penafsiran mendapatkan pengaruh yang beragam. Walaupun kita semua menerima sebuah pesan, cara orang-orang menafsirkan dan mengevaluasinya tidaklah sama. Penafsiran-evaluasi ini juga akan berbeda dari satu orang yang sama dari waktu ke waktu. Suara musik pop-rock bagi seseorang mungkin terdengar hingar bingar namun bagi sebagian orang itu mungkin terdengar sebagai musik yang indah.
Perbedaan individu ini janganlah sampai membutakan kita akan validitas beberapa generalisasi tentang persepsi. Meskipun generalisasi ini belum tentu berlaku untuk seseorang tertentu, tampaknya ia berlaku untuk sebagian cukup besar orang.

2. Proses yang mempengaruhi persepsi
Kita akan mempelajari 6 proses utama yang mempengaruhi persepsi. (Cook, 1971; Rubin,1973; Rubin dan McNeil, 1985) Teori kepribadian implisit (implicit personality theory), ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya (self-fulfilling prophecy), aksentuasi perseptual (perceptual accentuation), primasi resensi (primacy-recency), konseisten (consistency), dan setereotiping (stereotyping).

a. Teori kepribadian implicit.
Ketika kita membaca pernyataan-pernyataan singkat berikut ini. Karakteristik dalam tanda kurung yang kelihatannya paling cocok untuk melengkapi kalimat tersebut akan muncul dengan sendirinya dari persepsi kita:
John bergirah, memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan (cerdas, kurang cerdas)
Joe periang, lincah, dan (langsing, gemuk)
Jane menarik, cerdas, dan (disukai, dibenci)

Kata tertentu tampaknya benar dan lainnya kelihatannya salah. Yang membuatnya kelihatan benar adalah teori kepribadian implisit, sistem aturan yang mengatakan bahwa seseorang yang bergairah mempunyai rasa ingin tahu yang besar pasti juga cerdas. Tentu saja, tidak ada alasan logis untuk mengatakan bahwa orang yang tidak cerdas tidak dapat bergairah dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar.

“Efek halo” yang banyak dikenal merupakan fungsi dari teori kepribadian imlpisit kita. Jika kita percaya bahwa seseorang mempunyai sejumlah kualitas positif, kita menyimpulkan bahwa ia juga mempunyai kualitas positif yang lain. “Efek halo terbalik” juga ada. Jika kita tahu bahwa seseorang memiliki kualitas negative, kita cenderung menyimpulkan bahwa orang itu memiliki kualitas negative yang lain.

Hambatan potensial, dua hambatan serius terhadap persepsi yang akurat seringkali timbul bila seseorang menerapkan teori kepribadian implicit:
• Mempersepikan kualitas-kualitas dalam diri seseorang menurut “teori” seharusnya dimilikinya, padahal kenyataannya tidak demikian.
• Mengabaikan karakteristik atau kualitas yang tidak sesuai dengan teori ini.
b. Proses ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya
Ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya terjadi bila kita membuat perkiraan atau merumuskan keyakinan yang menjadi kenyataan karena kita meramalkannya dan bertindak seakan-akan itu benar. 
Ada empat langkah dasar dalm proses ini:
1. Kita membuat prediksi atau membuat keyakinan tentang seseorang atau situasi. Misalnya kita meramalkan bahwa si A adalah orang yang cangggung dalam hubungan antar pribadi.
2. Kita bersikap kepada orang atau situasi tersebut seakan-akan ramalan atau keyakinan kita benar. Misalnya, di depan si A kita bersikap seakan-akan dia memang orang yang canggung.
3. Karena kita bersikap demikian (seakan-akan keyakian kita benar), ia menjadi kenyataan. Misalnya, karena cara kita bersikap di depan si A, maka dia menjadi tegang dan “salah-tingkah” dan menunjukkan kecanggungan.
4. Kita mengamati efek kita terhadap seseorang atau akibat terhadap situasi, dan apa yang kita saksikan memperkuat keyakinan kita. Misanya, kita menyaksikan kecanggungan si A, dan ini memperkuat keyakinan kita bahwa ia merupakan orang yang canggung.

Efek Pigmalion (Pygmalion Effect). Merupakan contoh yang termasyhur tentang ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya (Rosenthal & Jacobson, 1968; Jamieson, Lydon, Stewart, & Zanna, 1978). Dalam sebuah penelitian tentang efek ini, guru-guru diberitahukan bahwa beberapa murid tertentu diperkirakan berprestasi luar biasa—bahwa mereka hanya terlambat muncul. Para peneliti sebenarnya memilih nama-nama murid ini secara acak saja. Murid-murid yang namanya terpilih ternyata memang berpretasi lebih baik dari pada murid yang lainnya. Harapan dari pra guru ungkin membangkitkan perhatian ekstra pada murid-murid ini, dan karenanya secara positif mempengaruhi kinerja mereka.

Hambatan potensial, ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya dapt menimbulkan sua hambatan. Kecenderungan kita untuk memenuhi sendiri ramalan kita dabat meyebabkan kita:
• Mempengaruhi perilaku orang lain sehingga sesuai dengan ramalan kita.
• Melihat apa yang diramalkan ketimbang apa yang sebenarnya.
c. Aksentuasi Perseptual

“Tiada rotan akar pun jadi” adalah pepatah yang banyak kita jumpai dalam komunikasi. Untuk menjadi calon actor, peran sekecil apapun dan seperti apapun dalam sebuah film lebih baik dari pada tidak sama sekali. Proses ini yang dinamai aksentuasi perceptual, membuat kita melihat apa yang kita harapkan dan kita inginkan.

Dalam penelitian yang dilaporkan oleh Zick Rubbin (1973), mahasiswa-mahasiswa ria ikut serta dalam penelitian yang mereka angggap sebagai dua penelitian yang terpisah dan tidak berkaitan satu sama lain. Padahal sebenarnya keduanya adalah dua bagian dari eksperimen tunggal. Pada bagian pertama, masing-masing responden membaca sebuah bacaan. Setengah responden membaca bacaan yang merangsang. Setengahnya lagi membaca kisah tentang burung-burung camar di lautan. Pada bagian kedua dari eksperimen ini, responden diminta untuk menilai mahasiswi berdasarkan foto dan deskripsi diri mahasiswi ini. Seperti diduga, kelompok yang membaca bacaan yang merangsang menilai mahasiswi itu sebagai lebih menarik ketimbang kelompok yang lain. Selanjutnya responen yang mengharapkan berkencan dengan mahasiswi menilainya sebagai lebih reseptif seksual dari pada responden yang di beri tahu bahwa mereka akan diminta untuk berkencan dengan mahasiswi yang lain. Walaupun eksperimen itu secara dramatis mendemonstrasikan aksentuasi perceptual, proses umum yang sama terjadi setiap hari, yaitu orang yang haus melihat bayangan air (fatamorgana).

Hambatan potensial
• Mendistorsikan persepsi kita mengenai realitas, membuat kita melihat apa yang yang kita butuhkan atau inginkan dari pada pada kenyataan yang ada, dan tidak melihat apa yang tidak ingin kita lihat.
• Menyaring atau mendistorsi informasi yang mungkin merusak atau mengancam citra diri kita dan dengan demikian sangat mempersulit upaya peningkatan diri.
• Memandang orang lain memiliki karakteristik atau kualitas negatif yang sebenarnya ada pada diri kita—psikoanalisis mekanisme defenif (defense mechanism) menamai ini proyeksi.
• Melihat dan mengingat kualitas atau karakteristik positif lebih dari pada yang negatif (dinamai efek poliana), dan dengan demikian mendistorsi persepsi kita tentang orang lain.
• Merasakan perilaku tertentu dari orang lain sebagai menunjukkan bahwa ia ingin menyukai kita hanya karena sebenarnya kita ingin disukai.

d. Primasi-Resensi
Dalam penelitian awal tentang efek primasi-resensi pada presepsi antar pribadi, Solomon Asch (1946) membacakan daftar ajektif (kata sifat) yang menguraikan seseorang di depan sekelompok responden dan menjumpai bahwa pengaruh urutan sangat penting. Orang yang dilukiskan sebagai “cerdas, tekun, implusif, kritis, keras kepala, dan dengki’ dinilai lebih positif dibandingkan dengan orang yang dilukiskan sebagai “dengki, keras kepala, kritis, implusif, tekun, dan cerdas”.
Implikasi disini adalah bahwa kita menggunakan informasi yang datang lebih dulu untuk mendapatkan gambaran umum seperti apa gambaran itu. Kemudian kita menggunakan informasi yang datang belakangan untuk membuat gambaran umum ini lebih spesifik.
Implikasi praktis dari efek primasi-resensi ini adalah bahwa kesan pertama yang tercipta tampaknya paling penting. Melalui kesan pertama ini, orang lain akan menyaring tambahan informasi untuk merumuskan gambaran tentang seseorang yang mereka persepsikan.

Hambatan potensial.
• merumuskan gambaran “menyeluruh” tentang seseorang berdasarkan kesan awal yang belum tenu akurat.
• Mendistorsi persepsi yang akan datang kemudian untuk merusak kesan pertama kita. Sebagi contoh, anda mungkin tidak memperhatikan tanda-tanda kecurangan yang telah memberikan kesan pertama yang baik.

e. Konsistensi
Seseorang menpunyai kecenderungan yang kuat untuk menjaga konsistensi atau keseimbangan diantara persepsi-persepsinya. Konsisten menggambarkan kebutuhan untuk melihat keseimbangan di antara sikap-sikap yang dimiliki. Kita akan memperkirakan bahwa hal-hal tertentu selalu muncul bersama-sama dan hal-hal lain tidak akan muncul bersama-sama.
Menurut kebanyakan teori konsistensi, harapan kita akan muncul bersama-sama sebagai berikut :
1. Kita berharap seseorang kita sukai menyukai
2. Dan orang yang tidak kita sukai untuk tidak menyukai kita
3. Kita berharap seorang teman akan menyukai teman kita yang lain
4. Dan tidak menyukai musuh kita
5. Kita berharap musuh kita tidak menyukai teman kita
6. Dan menyukai musuh kita yang lain

Konsistensi dapat menimbulkan hambatan utama :
• Mengabaikan atau mendistorsi persepsi tentang perilaku yang tidak konsestensi dengan gambaran kita mengenai seseorang secara utuh.
• Mempersepsikan perilaku spesifik sebagai terpancar dari kualitas positif orang yang kita sukai dan dari kualitas orang yang tidak kita sukai. Oleh karenanya kita tidak mampu melihat perilaku positif maupun negative.
• Melihat perilaku tertentu sebagai positif jika perilaku yang lain ditafsirkan sebagi positif (efek halo) atau sebagai negative jika perilaku yang lain diafsirkan secara negatif (efek halo terbalik).

f. Stereotiping
Jalan pintas yang sering digunakan dalam persepsi adalah stereotyping. Awal mulanya stereotype adalah istilah dalam bidang percakapan yang mengacu pada suatu pelat yang mencetak citra (gambar atau tulisan) yang sama berulang-ulang.
Misal : jika kita berjumpa dengan seorang tuna susila, kita akan menganggap bahwa semua ciri yang dimilki kelompok tuna susila dimiliki pula oleh orang lain. Lebih rumit lagi kita mungkin melihat dalam perilaku orang ini manifestasi dari berbagai karakteristik yang tidak akan kita lihat kalau saja kita tidak tahu bahwa orang ini adalah tuna susila. Stereotype mendistorsi kemampuan kita untuk mempersepsikan orang lain secara akurat. Stereotipe menghalangi kita untuk melihat seseorang sebagai seseorang dan bukan sekedar sebagai anggota suatu kelompok.
Stereotype dapat menimbulkan hambatan utama kecenderungan kita untuk mengelompokkan orang ke dalam kelas-kelas dan bereaksi terhadap seseorang terutama sebagai anggota kelas-kelas ini dapat membuat kita :
• Mempersepsikan seseorang seakan-akan memiliki kualitas-kualitas tertentu (biasanya negative yang kita yakini merupakan cirri kelompok di mana ia menjadi anggotanya (misalnya, semua orang di bawah nauangan bintang Venus bersifat malas) dan karenanya tidak mampu mengenali sifat multiaspek dari semua orang dan semua kelompok.
• Mengabaikan ciri khas yang dimilki seseorang dan karenanya tidak mampu menarik manfaat dari kontribusi khusus yang dapat diberikan setiap pihak dalam suatu perjumpaaan.
3. Membuat Persepsi Lebih Akurat
Efektivitas komunikasi dan hubungan bergantung sebagian besar pada keakuratan kita dalam persepsi antarpribadi. Kita dapat meningkatkan akurasi kita dengan :
1. Startegi untuk mengurangi ketidakpastian
Asumsi umum yang digunakan di sini ialah bahwa komunikasi merupakan proses bertahap gradual di mana orang saling mengurangi ketidakpastian tentang yang lain. Dengan tiap-tiap interaksi anda semakin mengenal pihak lain dan secara beranggsur-angsur mulai mengenal orang itu pada tingkat yang lebih bermakna. Charles Berger dan James Bradac (1982) mengidentifikasi 3 strategi utama untuk mengurangi ketidakpastian : strategi pasif, aktif dan interaktif.
 Strategi pasif
Strategi mengamati orang lain tanpa orang itu sadar bahwa dia sedang kita amati dan kita menerapkan strategi pasif.
 Strategi aktif
Strategi yang aktif mencari informasi tentang seseorang dengan cara apa pun selain berinteraksi dengan orang itu, kita menerapkan strategi aktif. Kita memanipulasi lingkungan dengan cara tertentu sehingga kita dapat mengamati seseorang secara lebih spesifik dan jelas. Wawancara lamaran pekerjaan, menonton teater, atau mengajar mahasiswa merupakan contoh-contoh cara di mana orang memanipulasi situasi untuk melihat bagaimana seseorang mungkin beraksi dan bereaksi, dengan demikian mengurangi ketidakpastian tentang orang itu.
 Strategi interaktif
Strategi dengan berinteraksi dengan seseorang, kita menerapkan strategi interaktif.
 Peran Persepsi
Persepsi memiliki beberapa peran diantaranya
1. Menilai suatu keadaan dan mengenali apa yang tengah kita amati
2. Bertindak sesuai dengan rangsangan yang tertangkap oleh indra
 Dampak Perbedaan Persepsi
Persepsi yang merupakan bentuk hasil berpikir bisa saja berbeda antara orang satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini biasanya disebabkan oleh perbedaan pengalaman yang pernah dirasakan setiap orang. Misalnya saja bagi si A ketika melihat temannya tertunduk sambil memegang kepala sudah menunjukkan bahwa teman tersebut pusing. Tapi berbeda dengan si B yang memendang bahwa teman tersebut sedang berpikir keras.
Perbedaan persepsi ini akan berdampak pada perbedaan perlakuan yang akan kita tunjukkan atau respon kita. Selain hal ini dampak lain misalnya timbulnya konflik karena perbedaan respon.
Upaya menyelaraskan Persepsi
Di samping menghindari hambatan-hambatan potensial dalam berbagai proses persepsi yang di kemukakan sebelumnya dan menerapkan ketiga strategi untuk mengurangi ketidakpastian serta menyelaraskan persepsi. Beberapa saran yang akan membantu :
1. Sebaiknya kita mencarilah berbagi petunjuk yang menunjuk kearah yang sama. Makin banyak petunjuk perceptual yang menuju ke arah yang sama, makin besar kemungkinan kesimpulan kita benar
2. Berdasarkan pengamatan kita atas perilaku, maka dapat kita rumuskan hipotesis
3. memperhatikan petunjuk-petunjuk yang kontradiktif, petunjuk yang akan menolak hipotesis awal
4. Jangan menarik kesimpulan sampai kita memiliki kesempatan untuk memproses beragam petunjuk
5. Ingat bahwa betapa pun banyaknya perilaku yang kita amati dan betapa pun cermatnya kita meneliti perilaku ini, kita hanya dapat menduga apa yang ada dalam benak orang lain
6. Jangan menganggap orang lain seperti kita, berpikir seperti cara kita berpikir atau bertindak seperti yang kita lakukan, menyadari keragaman manusia
7. Waspada terhadap bias kita sendiri sebagai contoh hanya menerima hal-hal positif pada diri orang yang anda sukai dan hanya menerima hal-hal yang negative pada diri orang yang tidak kita sukai.
 Kesimpulan
Persepsi adalah pengalaman yang terbentuk berupa data-data yang di dapat melalui indera, dan merupakan hasil pengolahan otak dan ingatan
Proses Terbentuknya Persepsi
- Proses persepsi
- Proses yang mempengaruhi persepsi
- Membuat Persepsi Lebih Akurat
Peran Persepsi
1. Menilai suatu keadaan dan mengenali apa yag tengah kita amati
2. Bertindak sesuai dengan rangsangan yang tertangkap oleh indra
Dampak Perbedaan Persepsi
Perbedaan persepsi akan berdampak pada perbedaan perlakuan yang akan kita tunjukkan atau respon kita. Selain hal ini dampak lain misalnya timbulnya konflik karena perbedaan respon.
 Saran
Makalah ini kuranglah dari sempurna, jadi kami mohon saran dan kritiknya demi kesempurnaan makalah ini. Terima kasih.