Cari Disini

Kamis, 11 Juli 2013

histori of footballnesia



PADA mulanya, sepakbola di Hindia Belanda hanya dimainkan oleh orang-orang Barat, terutama Belanda. Sepakbola adalah prestise. Tak mau disebut warga negara kelas dua, sepakbola kemudian dimainkan oleh orang Tionghoa, juga bumiputera. Perkembangan ini ditunjang pula oleh kebijakan Politik Etis. Sekolah-sekolah yang didirikan oleh Belanda seperti MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), AMS (Algemene Middelbare School), dan HBS ((Hogere Burger School) mengajarkan olahraga, dan salah satunya sepakbola.
Klub sepakbola pertama yang terbentuk di Batavia adalah Bataviasche Cricket-En Football Club Rood-Wit, pada 28 September 1893. Setelah itu muncul klub-klub sepakbola di Surabaya, Bandung, Semarang, Malang, Surakarta, dan Yogyakarta. Semuanya berada di bawah naungan Netherlansche Indische Voetbal Bond (NIVB).
Keberadaan perkumpulan sepakbola Tionghoa, terutama di Surabaya, tak lepas dari peranan Perkumpulan Olahraga (POR) Gymnastiek en Sportvereeniging Tiong Hoa yang berdiri pada 31 Desember 1908. Awalnya, cabang olahraga dalam POR itu hanya senam, yakni senam standen (membangun piramid), senam ringen atau still rings (gelang-gelang), senam rekstok atau horizontal bar (palang tunggal), dan senam brug atau parallel bars (palang sejajar). Oei Kwie Liem kemudian mendirikan cabang sepakbola dalam POR pada 1915. Sejarah klub sepakbola Tionghoa Surabaya inilah yang jadi fokus RN Bayu Aji dalam buku ini.
Sepakbola menjadi olahraga populer. Ia menarik banyak penggemar. Kerusuhan antarsuporter sepakbola sempat menimbulkan konflik dan kesulitan POR Gymnastiek en Sportvereeniging Tiong Hoa. Pengurus cabang sepakbola berusaha meyakinkan pengurus cabang olahraga lainnya agar sepakbola tetap dipertahankan. Dan, berhasil. Cabang sepakbola tak jadi dibubarkan. Sepakbola justru bertambah besar dan mendapat simpati dari berbagai kalangan.
Tapi cobaan masih menghadang. Antara lain penggusuran lapangan Quick untuk dijadikan stasiun kereta api–mengingatkan kita pada penggusuran Stadion Menteng yang kini beralih-fungsi jadi Taman Menteng. Kesebelasan Tionghoa Surabaya segera mencari jalan keluar. Mereka menggalang dana untuk mencari lapangan baru. Akhirnya,  mereka bisa kembali memainkan si kulit bundar di lapangan baru, Cannalaan.
Pengorganisasian dan pengelolaan manajemen sepakbola Tionghoa Surabaya sangat baik. Sarana dan prasarananya memadai. Sehingga membuat klub ini tumbuh kuat dan disegani, hingga menjadi kiblat sepakbola Tionghoa di Surabaya dan Hindia Belanda. Ia juga berdiri sejajar dengan klub-klub besar sepakbola Tionghoa di Hindia Belanda, yakni UMS Batavia, YMC Bandung, dan Union Semarang. Bahkan dalam pertandingan antarkota, Tionghoa Surabaya menempatkan diri sebagai klub papan atas di Hindia Belanda. Sejumlah trofi kejuaran antarklub sepakbola Tionghoa yang berhasil disabet oleh Tionghoa Surabaya antara lain Piala Hoo Bie (1921-1922), Piala Tjoa Toan Hoen (1925), Piala CKTH (1927-1929), dan Piala HNVB (1930-1932).
Masa keemasan Tionghoa Surabaya terjadi pada 1939 dengan memenangi kompetisi SVB, Piala HNVB, dan Java Club Kampion. Raihan prestasi tersebut tak bisa disamai oleh klub lainnya, termasuk dari kalangan Belanda, apalagi bumiputra.
Tak heran jika dua pemain Tionghoa Surabaya, Tan Mo heng dan Tan Hong Djien, masuk tim nasional Hindia Belanda, Dutch East Indies (NIVU), untuk berlaga dalam Piala Dunia Prancis 1938.  Hindia Belanda mencatatkan diri sebagai negara Asia pertama yang masuk ke Piala Dunia.
Setelah Indonesia merdeka, etnis Tionghoa terus berkiprah dalam sepakbola. Sejumlah perkumpulan sepakbola didirikan warga Tionghoa. Di Jakarta ada UMS dan Chung Hua, yang masing-masing memiliki lapangan di Petak Sinkian dan Tamansari. Bahkan di era 1950-an dan 1960-an, sekitar 50 persen pemain tim nasional Indonesia adalah etnis Tionghoa. Nama-nama seperti Tan Liong Houw (Latif Harris Tanoto), Kuin Ciang, Phwa Sian Liong, The San Liong, Chris Ong, Tek An, Tjan Peng Kong, Mulyadi, Surya Lesmana, dan Lukman begitu tersohor. Mereka turut mengharumkan persepakbolaan nasional. Prestasi terbaik Indonesia di era itu adalah menahan seri 0-0 Uni Soviet di Olimpiade Melbourne pada 1956.
Kini, selama 30 tahun terakhir, sulit menemukan pemain keturunan Tionghoa di tim nasional, bahkan di klub-klub sepakbola yang ikut kompetisi Liga Indonesia. Kita hanya mengenal pemain-pemain asing dari Brasil, Kamerun, Nigeria, Argentina, atau Chile.
Iswadi Idris, pemain nasional era 1960 dan 1970-an yang pernah menjabat direktur Kompetisi dan Turnamen PSSI di masa kepemimpinan Agum Gumelar, punya catatan tentang keterlibatan Tionghoa di sepakbola. Menurutnya, sejak peristiwa G30S warga Tionghoa mulai menjauhi sepakbola. Mungkin karena Partai Komunis Indonesia, yang dituduh Orde Baru berada di balik peristiwa 1965 itu, diidentikkan dengan etnis ini, sehingga mereka takut melakukan aktivitas massal di ruang terbuka. Iswadi menduga mereka masih trauma, sehingga lebih memilih olahraga perseorangan seperti bulutangkis dan tenis meja.
Orde Baru, yang melanggengkan sentimen dan diskriminasi rasial, sudah tumbang. Keberagaman mulai diterima masyarakat. Perlahan tapi pasti muncul bibit-bibit baru pemain sepakbola Tionghoa. Ada Nova Arianto yang berkiprah di Persib Bandung, juga tim nasional. Tinggal, siapa lagi yang akan menyusul?

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar